6 Sekolah Bersejarah di Kota Cirebon, Ada Taman Kanak-kanak hingga Tempat Istirahat Biksu

  Kamis, 10 Juni 2021   Erika Lia
MPN 14 Cirebon sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang pada masa kolonialisme Belanda merupakan taman kanak-kanak. (Frobelschool)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Sedikitnya 6 sekolah bersejarah di Kota Cirebon. Sekolah-sekolah itu termasuk bangunan cagar budaya yang dibangun pada era kolonialisme Belanda.

Sampai kini, bangunan-bangunan tersebut masih termanfaatkan sebagai ruang menuntut ilmu, masing-masing SDN Kebon Baru, SDN Pulasaren, SMPN 1 Cirebon, SMPN 14 Cirebon, SMPN 15 Cirebon, dan SMPN 16 Cirebon

Dengan statusnya sebagai bangunan cagar budaya, keberadaan sekolah-sekolah itu pun perlu dilindungi dan dilestarikan.

"(Hal itu) menurut SK Wali Kota Cirebon Nomor 19 Tahun 2001 Tentang Cagar Budaya," terang Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon, Ida Kurniasih kepada Ayocirebon.com.

Berikut ini 6 sekolah bersejarah di Kota Cirebon: 

SDN Pulasaren

SD Negeri Pulasaren terletak di Jalan Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan.

SD Pulasaren saat ini merupakan area pendidikan yang terdiri dari 5 sekolah dasar negeri, mulai SDN Pulasaren I hingga SDN Pulasaren V.

AYO BACA: Serba Serbi 3 Keraton di Cirebon, Cocok jadi Destinasi Liburan Akhir Pekan

Pada masa kolonialisme Belanda, SDN Pulasaren didirikan sebagai Holland Chineesche School (HCS).

"Itu sekolah dasar bagi anak-anak Cina di Cirebon dengan metode pendidikan Belanda," ungkap pemerhati budaya Cirebon, Mustaqim Asteja kepada Ayocirebon.com.

Ketika itu, masa belajar anak-anak berlangsung hingga kelas 7. Secara sosial, anak-anak Cina kala itu dipandang sederajat dengan Eropa.

Menurut sejarahnya, HCS didirikan 1908 oleh Pemerintah Belanda di Indonesia. Pada HCS, materi pelajaran diberikan dalam bahasa Belanda.

SDN Kebon Baru Utara

Serupa dengan SDN Pulasaren, SDN Kebon Baru Utara pun merupakan komplek sekolah dasar yang terdiri dari 4 SD Negeri, masing-masing SDN Kebon Baru 1, 2, 3, dan 6.

Sekolah ini terletak di Jalan Veteran, Kelurahan Kejaksan, Kecamatan Kejaksan.

Disarikan dari buku 'Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon' yang diterbitkan otoritas pariwisata setempat, SDN Kebon Baru semula merupakan sekolah pendidikan tingkat dasar pada masa Belanda, Eurospeesch Lagere School (ELS).

Di Indonesia sendiri, ELS dibangun pada 1817. Semula, ELS hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan Eropa lainnya.

Pada 1903, rakyat Indonesia dari kelas terpandang diizinkan turut menuntut ilmu pada ELS.

Namun, peruntukan ELS kembali hanya bagi anak-anak Eropa setelah HIS dan HCS didirikan.

Sama seperti HCS, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Belanda dan masa pendidikan berlaku 7 tahun.

SDN Kebon Baru didirikan pada 1912. Sejak masa kemerdekaan, sekolah ini menjadi milik Pemerintah RI dan kini menjadi aset Pemkot Cirebon.

Mustaqim menyebut, eksistensi SDN Kebon Baru tak lepas pula dari perpindahan pusat pemerintahan Cirebon di zaman Belanda.

"Dulu, orang-orang Belanda tinggal di kawasan Cangkol, sebelum kemudian pindah ke kawasan Kejaksan yang jadi pusat pemerintahan Kota Cirebon sampai sekarang," tutur pengajar budaya dan seni pada Poltekpar Prima Internasional Cirebon ini.

SMPN 1 Cirebon

SMPN 1 Cirebon berada di Jalan Siliwangi, Kelurahan Kebon Baru, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon.

Sekolah ini dibangun pada 1925. Disarikan dari buku yang sama, menurut catatan pimpinan pertama sekolah tersebut, Van der Muler, SMPN 1 Cirebon dahulu didirikan dengan nama Meer Uitgebreid Pager Onderwijs (MULO).

MULO ketika itu merupakan sekolah lanjutan ELS, Hollandsch Inlandsche School (HIS) atau sekolah bagi rakyat Indonesia keturunan bangsawan atau tokoh terkemuka, HCS, dan Schacelshool, yang secara etis terbuka untuk semua golongan.

Awalnya, sekolah ini hanya bagi orang Belanda. Hanya anak-anak Indonesia atau Cina dari kalangan tertentu saja yang dapat masuk sekolah ini.

Materi pelajaran disampaikan dalam bahasa Belanda, dengan masa menempuh pendidikan di ELS selama 3 tahun. Pimpinan sekolah, sejak 1926 hingga 1942 dipegang secara bergantian oleh orang Belanda.

Kala masa pendudukan Jepang, MULO berganti nama menjadi Chu Bakko (Chu = tengah; Bakko = sekolah).

Pemerintah pendudukan Jepang mengangkat Rd. Adjat Sudrajat sebagai kepala sekolah.

Berbeda dengan masa pendudukan Belanda, pada masa ini materi pelajaran diberikan dalam 2 bahasa, masing-masing bahasa Indonesia (Melajoe Oemoem) dan bahasa Jepang (Nippon-go) sebagai bahasa kenegaraan.

Ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada 15 Agustus 1945 dan Indonesia merdeka, Chu Bakko lantas berganti nama menjadi SMP Negeri Cirebon.

Pada 1955, pemerintah mendirikan SMPN 2 Cirebon. Ketika itulah, SMP Negeri Cirebon pun menjadi SMPN 1 Cirebon.

Mengamati sejarah itu, SMPN 1 Cirebon dipandang sebagai tonggak sejarah pendidikan menengah pertama di Cirebon.

SMPN 14 Cirebon

BCB-SMPN-14-Crb1
gambar art hd

SMPN 14 Cirebon sebagai salah satu bangunan cagar budaya yang pada masa kolonialisme Belanda merupakan taman kanak-kanak (Frobelschool).

Berada di Jalan Kebumen, Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, SMPN 14 Cirebon didirikan pada 1933.

Bangunan sekolah ini dahulu adalah taman kanak-kanak (Frobelschool), yakni kelas persiapan bagi anak-anak sebelum masuk kelas I HIS ataupun HCS dan ELS.

Di sekolah ini, anak-anak disiapkan untuk membiasakan diri berbahasa Belanda agar dapat menerima pelajaran saat menempuh pendidikan di sekolah lanjutan.

Pendidikan di Frobelschool hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda, tokoh agama Nasrani, serta rakyat Indonesia dari kalangan terkemuka.

Taman kanak-kanak itu selanjutnya dibubarkan ketika Indonesia merdeka. Bangunannya sempat dijadikan sebagai sekolah negeri.

AYO BACA: Catat, Ini SMA Terbaik di Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan Majalengka

Pada 1949-1951, bangunan ini digunakan untuk Sekolah Teknik Pertama (STP) Negeri 2 Cirebon.

STP kemudian berubah menjadi Sekolah Teknik Negeri (STN) pada 1951. Pada 1954 bangunan ini pula digunakan sebagai Sekolah Kerajinan Negeri hingga pembubarannya pada 1956.

"Bangunan SMPN 14 itu pernah jadi sekolah yang mengajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak," ujar Mustaqim pada kesempatan terpisah.

Pada 1964, STN Cirebon dipecah 2, masing-masing STN 1 dengan Program Studi Teknik Mesin dan STN 2 dengan Program Studi Bangunan Gedung.

STN 2 lantas dialihfungsikan sebagai SMPN 14 Cirebon pada tahun pelajaran 1992/1993.

SMPN 15 Cirebon

BCB-SMPN-15-crb
gambar art hd

SMPN 15 Cirebon merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang semula difungsikan sebagai tempat peristirahatan para biksu di Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

SMPN 15 Cirebon terletak di Jalan Pasuketan, Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk.

Bangunan ini didirikan pada 1922. Pemanfaatannya sendiri berubah-ubah, dari awal pembangunannya yang difungsikan sebagai tempat peristirahatan para biksu setelah beraktivitas di Vihara Dewi Welas Asih Cirebon, sekitar 100 m dari sekolah ini.

Dari tujuan awal pembangunannya itulah, tak heran bila interior bangunan SMPN 15 Cirebon memiliki beberapa ornamen bergaya Cina.

Hingga 1956 bangunan ini digunakan pula sebagai poliklinik. Fungsinya berubah pada 1956-1960 menjadi Sekolah Guru Pendidikan Teknik.

Pada 1960-1967, bangunan ini dimanfaatkan sebagai Sekolah Teknik Menengah Umum.

Lantas, pemanfaatannya kembali berubah menjadi Sekolah Teknik Menengah Perikanan Laut pada 1967-1985.

Mulai 1985-1994 bangunan ini menjadi rumah tinggal guru, salah satunya guru Sekolah Teknik Perikanan Laut.

Namun, sejak 1994 sampai kini, bangunan tersebut menjadi SMPN 15 yang dikelola Pemkot Cirebon.

AYO BACA: 7 Situs Bersejarah Kuningan yang Wajib Dikunjungi

SMPN 16 Cirebon

SMPN 16 Cirebon berlokasi di Jalan Kebumen, Kelurahan Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk.

Menurut Mustaqim Asteja, bangunan SMPN 16 dahulu digunakan sebagai sekolah bagi orang Eropa, baik putra maupun putri.

"Kemudian, pada sekitar 1950 setelah Indonesia merdeka, sekolah ini menjadi Sekolah Kepandaian Putri (SKP)," ujarnya.

SKP kemudian berubah menjadi Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP), bahkan pernah menjadi SMPN 17 Cirebon, sebelum ditetapkan sebagai SMPN 16 Cirebon.

Di luar sekolah-sekolah tersebut, Mustaqim mengatakan, masih ada sekolah lain di Kota Cirebon yang selayaknya pula ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. 

Sekolah-sekolah itu antara lain SDN Kejaksan dan SDN Prujakan. Kedua sekolah ini pun merupakan tempat menimba ilmu sejak masa kolonialisme Belanda.

Itulah 6 sekolah bersejarah di Kota Cirebon. Yang mana sekolahmu?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar