Gempa dan Tsunami Jatim Bukan Prediksi, Begini Mitigasi Sebelum dan Setelah Gempa Bumi

  Kamis, 10 Juni 2021   Editor
ilustrasi gempa bumi yang pernah terjadi di Jatim. (EMSC)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Masih ada yang menyebar informasi tidak benar terkait gempabumi dan tsunami di pantai selatan Jawa Timur. BMKG sebelumnya menegaskan bahwa informasi yang mencuat salah. Gempa dan Tsunami di Pantai Selatan Jatim bukanlah prediksi, melainkan potensi.

Mengutip pernyataan resmi dari Humas BMKG, sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempabumi dengan tepat dan akurat kapan, di mana, dan berapa kekuatannya, sehingga BMKG tidak pernah mengeluarkan informasi prediksi gempabumi.

Berdasarkan hasil kajian dan pemodelan para ahli yang disampaikan pada diskusi bertajuk "Kajian dan Mitigasi Gempabumi dan Tsunami di Jawa Timur", BMKG menyebut zona lempeng selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum M 8,7. Tetapi ini adalah potensi bukan prediksi yang pasti, sehingga kapan terjadinya tidak ada yang tahu.

"Untuk itu kita semua harus melakukan upaya mitigasi struktural dan kultural dengan membangun bangunan aman gempa dan tsunami," tulis BMKG, Sabtu, 5 Juni 2021.

Terkait potensi gempa dan tsunami Jawa Timur, BMKG menyebutkan, pemerintah daerah dengan dukungan pemerintah pusat dan pihak swasta perlu menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi yang layak dan memadai. 

Di samping itu, BPBD memastikan sistem peringatan dini di daerah rawan beroperasi/ terpelihara dengan layak dan terjaga selama 24 jam tiap hari untuk meneruskan peringatan dini dari BMKG.

Lalu pemerintah daerah dengan pusat melakukan penataan tata ruang pantai rawan agar aman dari bahaya tsunami dengan menjaga kelestarian ekosistem pantai sebagai zona sempadan untuk pertahanan terhadap gelombang tsunami dan abrasi. 

"Pemerintah daerah dengan pihak terkait perlu membangun kapasitas masyarakat/edukasi masyarakat untuk melakukan response penyelamatan diri secara tepat saat terjadi gempabumi dan tsunami," lanjutnya.

Untuk masyarakat, BMKG pun mengimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bilamana ingin mengetahui informasi yang jelas, masyarakat diminta menghubungi atau mengakses informasi langsung dari BMKG.

Apa yang bisa dilakukan sebelum terjadi bencana gempa?

Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan membeberkan sejumlah tips terkait apa yang harus dilakukan oleh masyarakat sebelum atau sesudah gempa bumi terjadi. 

Sebelumnya dia mengungkapkan hal-hal yang perlu dipahami dalam mitigasi gempa atau upaya mengurangi risiko dari gempa itu.

  • Kenali lingkungan sekitar, apakah aman untuk ditinggali?
  • Perkuat struktur dan fasilitas agar lebih aman
  • Siapkan kontak dan tas siaga bencana untuk bertahan hidup 72 jam
  • Siapkan rencana kedaruratan dengan melakukan pertemuan keluarga
  • Siapkan rencana untuk membangun kehidupan kembali
  • Berlatih mitigasi

Apa saja isi tas siaga bencana?

Tas siaga bencana adalah tas berisi sekumpulan barang pokok rumah tangga yang dipersiapkan sebelum terjadi bencana dan dibutuhkan dalam keadaan darurat. Berikut isinya:

  • Pakaian
  • Dokumen penting
  • Senter
  • Makanan tahan lama
  • Air minum
  • Masker
  • Kotak P3K
  • Uang cash
  • Peluit
  • Radio portable
  • Ponsel
  • Peralatan mandi

“Ganti isi tas secara berkala, jangan sampai ada yang kedaluwarsa,” tutur Dani.

Bagaimana cara selamatkan diri saat gempa?

Dani mengatakan, cara paling aman untuk menyelamatkan diri dari gempa adalah dengan 3B yakni bersimpuh, bertahan, dan berlindung. Selain itu, masyarakat diimbau tetap tenang, lindungi kepala, dan berdoa.

“Kepala pusat kendali, kalau kelapa tertimpa, kita pingsan. Selama kepala terlindungi, kita masih bisa berfikir,” jelasnya.

Berikut tips selamatkan diri saat terjadi gempa:

  • Merunduk
  • Berlindung di bawah meja apabila sedang berada di dalam ruangan. Bersimpuh lindungi kepala jika sedang berada di luar ruangan.
  • Bertahan dengan memegang kaki meja atau benda kokoh untuk berlindung dari benda yang berjatuhan
  • Setelah guncangan berhenti, segera keluar gedung menuju titik kumpul terdekat atau lapangan terbuka
  • Apabila ada asap, keluar gedung dengan merangkak
  • Saat di luar, jauhi tiang listrik, pohon, dan bangunan yang mudah roboh

Apa yang harus dilakukan usai gempa?

Dani menjelaskan, bahaya lain dari gempa adalah kebakaran. Oleh karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan usai gempa adalah mengecek sumber-sumber api.

Segera matikan gas dan listrik Cek sumber bahaya di rumah seperti lampu, water heater, benda pecah belah, kompor, dan bahan kimia

Kencangkan lemari dan amankan benda-benda yang mudah terjatuh.

“Posisikan lemari berlawanan arah dengan sesar. Jika posisi lemari berlawanan dengan arah sesar, maka posisi lemari akan stabil,” ujar Dani.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar