Kesempatan Ganti Profesi Terbatas, Pekerja Seks Dibayang-bayangi Diskriminasi

  Minggu, 02 Mei 2021   Erika Lia
Pekerja seks kerap mendapat diskriminasi saat mereka hendak alih profesi (ilustrasi). (Ayocirebon.com)

KEDAWUNG, AYOCIREBON.COM -- Praktik diskriminasi menggarami 'luka' para pekerja seks perempuan (PSP) hingga memilih tetap beroperasi selama Ramadhan.

Tak banyak pilihan yang bisa diambil para PSP bila harus beralih profesi sepanjang bulan puasa. Pilihannya terbatas pada berjualan seadanya, atau menjadi asisten rumah tangga (ART) dadakan yang umumnya banyak dicari menjelang Lebaran.

Koordinator Petugas Lapangan pada PKBI Cirebon, Sarah Susanti menyebutkan beberapa pekerjaan temporer yang dilakoni para PSP saat Ramadhan.

"Jualan es, jualan kue, tenaga untuk kredit baju, ART musiman di perumahan-perumahan," beber Sarah, belum lama ini kepada Ayocirebon.com.

Untuk memilih pekerjaan temporer yang dibutuhkan orang lain, para PSP biasanya menyembunyikan identitas mereka.

Menurut Sarah, tak sedikit PSP yang ditolak bekerja setelah identitasnya terkuak.

Penolakan salah satunya sebab kekhawatiran dari para pemberi kerja yang kebanyakan perempuan atas suami-suami mereka.

"Mereka khawatir suaminya kecangkol (tersangkut/terlibat hubungan dengan PSP)," kemukanya menyampaikan salah satu alasan penolakan pemberdayaan PSP di masyarakat.

Sarah mengakui, perlakuan diskriminatif dan pengucilan di masyarakat banyak diterima PSP.

AYO BACA : Pasangan Suami Istri Mucikari Prostitusi MiChat di Majalengka, Adik Jadi PSK

Stigma atas profesi yang melekat pada mereka membuat kesempatan alih profesi menjadi sangat terbatas.

"Mereka (PSP) enggak dikasih banyak kesempatan untuk beralih profesi yang katanya lebih baik, jadi ya balik lagi ke kegiatan semula," tuturnya.

Padahal, aktivitas seksual yang mereka jalani tak lepas dari permintaan para pria yang hendak memenuhi syahwatnya.

"Istilahnya tidak ada penjual tanpa pembeli," ujar Sarah.

Menurutnya, para PSP sejatinya membutuhkan kesempatan yang disertai kepercayaan. Dia meyakinkan, stigma pada PSP sedianya dapat luntur bila publik dapat memanusiakan PSP.

"Mereka tidak seburuk yang dipikirkan. Mereka masih punya hati, kita tetap bisa ngobrol baik kok sama mereka," ungkapnya.

Pihaknya sendiri dalam hal ini kerap membuka akses bagi PSP yang hendak alih profesi.

Dalam hal ini, salah satunya dengan mengenalkan mereka pada orang-orang yang membutuhkan tenaga kerja temporer maupun permanen.

"Bahkan, kalau mereka (PSP) jualan, kami juga ikut beli dan ikut bantu memasarkan. Supaya mereka semangat dan tetap berdaya," tandasnya.

AYO BACA : Cerita PSK Cirebon, Batal Puasa Gara-gara Syahwat Pria

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar