18,9 Juta Orang Nekat Mudik, Lonjakan Covid-19 India Harus Jadi Pelajaran

  Kamis, 29 April 2021   Erika Lia
Orang-orang yang memakai masker berdiri dalam antrian untuk naik kereta di Lokmanya Tilak Terminus di Mumbai, India, Rabu, 14 April 2021. India berada dalam kondisi ledakan kasus positif dan kematian akibat Covid-19. (ilustrasi Republika via AP/ Rafiq Maqbool)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI, Doni Monardo menyebut, 18,9 juta orang nekat mudik. Berkaca pada pengalaman India, kondisi itu mengundang kekhawatiran.

Dalam kesempatannya di Kota Cirebon, Doni mengungkapkan, menegaskan, kebijakan larangan mudik Lebaran 1442 H/2021 M demi mencegah tsunami Covid-19 yang timbul pasca kerumunan dalam kegiatan tradisi keagamaan.

"Saat ini ada sebanyak 7% atau 18,9 juta orang yang memaksa untuk mudik," ungkapnya kala Rapat Koordinasi Penanganan Covid-19 Wilayah Jawa Barat dan Pengendalian Transportasi Masa Idulfitri 1442 H/2021 M di Rumah Jabatan Bupati (Pendopo) Cirebon, Kamis 29 April 2021.

AYO BACA: RT dan RW Diminta Partisipasi Mengecek Warga yang Mudik
AYO BACA: Cirebon Raya Tak Dijatah Mudik Lokal, Pemerintah Pusat Diminta Atensi

Dia mengingatkan, manusia merupakan salah satu media pembawa virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit menular Covid-19.

Pergerakan 1 manusia berstatus carrier (orang tanpa gejala pembawa virus), membuka ancaman penyebaran Covid-19 terhadap puluhan orang lainnya.

Selama 1 tahun terakhir, Indonesia sendiri kini diakuinya dalam kondisi terbaik pada tingkat paparan Covid-19.

"Ada di angka 6,07%, lebih rendah dari sejumlah negara lain di dunia. Angka kesembuhan bahkan jauh lebih banyak," tuturnya.

Kendati demikian, dia meminta situasi itu tak sampai membuat semua orang lengah.

AYO BACA: Jabar Halau Pemudik: Pengawasan Jalur Tikus Diperketat, Lokasi Karantina Tempat Angker
AYO BACA: Dispensasi Mudik Santri, Wamenag: Wapres Minta Larangan Dipatuhi

Ancaman lonjakan kasus Covid-19 masih mengintai bila masyarakat lalai dan mengabaikan kebijakan-kebijakan yang telah dilahirkan untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Situasi di India saat ini, menurutnya, harus menjadi cermin. Fenomena lonjakan kasus Covid-19 di India terjadi pasca kegiatan tradisi keagamaan.

"Contoh kasus aktif di India saat ini jadi pelajaran. Februari lalu, angka keterpaparan di India jauh di bawah Indonesia, tapi sebaliknya, kini India banyak lonjakan (kasus Covid-19) karena salah satu sebab adanya perkumpulan orang dalam kegiatan adat keagamaan," paparnya.

mudik
Ilustrasi mudik. (Ayocirebon.com)

Doni kembali mengingatkan, tak ada seorang pun yang dijamin bebas dari paparan virus ini. Pun begitu dengan orang yang tampak tanpa gejala.

Sejauh ini, kebijakan PPKM Mikro dinilai telah efektif menekan kasus Covid-19.

"Makanya, mudik harus dicegah untuk memutus rantai penyebarannya," tegasnya.

Dia pun meminta pemerintah, mulai pusat hingga tingkat desa/kelurahan kompak melaksanakan narasi yang telah ditetapkan, salah satunya dalam kebijakan larangan mudik.

AYO BACA: 115 Travel Gelap Angkut Pemudik Diamankan Polisi, Diantaranya Jurusan ke Pantura
AYO BACA: Saran dari Wagub Jabar agar Santri Bisa Mudik

Di sisi lain, para orang tua maupun tokoh agama serta masyarakat di kampung halaman, diminta berperan aktif melakukan pendekatan personal dan emosional terhadap anak-anak mereka terkait larangan mudik guna menghindari paparan Covid-19 di desa-desa.

"Pendekatan kepada warga yang akan tetap mudik harus disampaikan dengan baik, terutama pengetahuan atas keutamaan mencegah Covid-19, minimal mereka sendiri jangan sampai terpapar," tambahnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar