Pengeboran Air Tanah Diduga Sebabkan Api Abadi Mrapen Mati

  Selasa, 20 April 2021   Audrian Firhannusa
Api abadi Mrapen yang mati. (Ayosemarang.com/dok. Humas Pemprov Jateng)

GROBOGAN, AYOCIREBON.COM -- Api Abadi Mrapen kerap digunakan untuk even-even nasional, misalnya Pekan Olahraga Nasional, sampai Upacara Peringatan Hari Raya Waisak. Namun pada September 2020, api abadi ini padam.

Kepala Dinas ESDM Jateng Sujarwanto mengungkapkan, keberadaan Api Abadi Mrapen adalah hasil gas alam yang secara alamiah menembus permukaan dan terbakaran. Akumulasi gas yang terjadi di suatu tempat terjadi karena rangkaian panjang dari perjalanan sumber gas yang jauh dari permukaan bumi.

Adapun formasi batuan bagian dari zona stratigrafi lembah Randublatung yang memanjang dari sebelah timur Semarang sampai jauh di selatan Madura.  Zona ini merupakan zona depresi bertekanan tinggi dan memiliki tekanan kompresi yang begitu kuat. Sehingga lapisan batuan di bawahnya selalu bertekanan.

AYO BACA : Kuota Prakerja Gelombang 17 Ditambah, Ayo Daftar Jangan Gagal Lagi!

Selain itu pula, lembah Randublatung merupakan cekungan belakang dari sebuah tektonik yang  bagian tengahnya adalah aktivitas magmatik. Fenomena yang nampak adalah jalur gunung api aktif (jalur Banda) dari tengah Sumatera-Jawa-Bali-NTB-NTT-Kepulauan Maluku-Sulawesi.

“Di Godong (Kecamatan Godong) merupakan ujung barat ini, rupanya cukup dangkal sehingga gas itu berada di kantong yang tidak terlalu jauh dari permukaan bumi. Kemudian ada struktur yang membuat bocoran di permukaan yang mengakibatkan semburan gas yang terbakar itu,” kata Sujarwanto pada Senin, 19 April 2021, melansir Ayosemarang.com.

Sujarwanto menarik kesimpulan, penyebab api abadi mati tak lain karena banyak aktivitas yang membocorkan gas itu ke permukaan. Diduga pengeboran itu dilakukan orang untuk mencari air bersih.

AYO BACA : Pilihan Menu Sahur dan Buka Puasa Bagi Penderita Asam Lambung

Pasalnya di cekungan Randublatung air bersih sulit ditemukan. Jadi jika pengeboran dilakukan oleh orang yang kurang kompeten maka yang keluar adalah gas.

Untuk itu, Sujarwanto tegas meminta masyarakat agar tidak melakukan pengeboran air tanah tanpa izin, oleh perusahaan atau juru bor yang tidak kompeten. Jangan menganggap di bawah tanah selalu ada air tanah.

“Pemboran air di wilayah Grobogan-Blora berisiko terjadi semburan gas yang berisiko keselamatan jiwa dan lingkungan," pungkasnya.

Upaya penyalaan kembali Api Abadi Mrapen dilakukan dengan beberapa tahap. Diantaranya survei geolistrik untuk mencari sumber api baru, pelaksanaan pengeboran dan penemuan sumber gas dan api di kedalaman 40 meter.

"Istilahnya kami mereorientasi aliran gasnya. Sebab matinya Api Abadi Mrapen disebabkan karena kebocoran aliran gasnya," katanya.

Dengan cara itu lanjut dia, maka suplai gas untuk Api Abadi Mrapen bisa tercukupi. Cara itu diprediksikan bisa membuat Api Abadi Mrapen bisa hidup langgeng selama 40 tahun ke depan.

AYO BACA : Aksi Heroik Antre Vaksin Nicholas Saputra Mendadak Trending di Twitter

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar