Fasilitas Publik di Kabupaten Cirebon Belum Ramah Difabel, Termasuk Mal dan Tempat Ibadah

  Selasa, 06 April 2021   Erika Lia
Fasilitas Publik Di Kabupaten Cirebon Harus Ramah Difabel /Erika Lia
AYO BACA : 5 Situs Streaming Nonton Drama Korea Sub Indonesia Terbaru 2021

AYO BACA : Kiat Agar Terbiasa Tahajud dan Keutamaan Shalat Malam

SUMBER, AYOCIREBON.COM- Fasilitas publik di Kabupaten Cirebon, termasuk tempat ibadah hingga mal, dinilai belum ramah difabel.
 
Aktivis difabel Cirebon, Ulya Aufiya Mutmainnah mengungkapkan, fasilitas publik di Cirebon belum seluruhnya menerapkan UU Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas. 
 
"Fasilitas taman dan jalanan umum, misalnya, belum menerapkan (ramah difabel) karena belum ada sosialisasi penuh dari pemda, seperti logo difabel di tempat parkir, guiding block di trotoar yang malah seringnya dialihfungsikan sebagai trotoar dan dinaikin (dijadikan parkir) motor," tuturnya kepada Ayocirebon.com.
 
Tak hanya trotoar dan jalan umum, tempat ibadah pun disoroti Ulya. Penyandang difabel fisik terutama, sering kesulitan saat harus mengakses toilet atau kamar mandi pada tempat ibadah, salah satunya masjid.
 
Kerapkali, tempat berwudhu pun tak representatif bagi mereka. Bahkan, tak jarang larangan beribadah berlaku bagi penyandang difabel. 
 
"Termasuk pasar dan mal, kebanyakan tak ramah difabel," tambahnya.
 
Di sisi lain, masyarakat umum sendiri belum terbiasa dengan kebijakan publik yang berkaitan dengan penyandang difabel. Masyarakat bahkan cenderung mengelompokkan difabel sebagai orang tak berdaya.
 
Dia menyontohkan, ada beberapa fasilitas umum yang ramah difabel seperti jalan khusus bagi penyandang difabel yang berkursi roda. Sayang, kurangnya empati membuat masyarakat lain justru tak mematuhi dan memanfaatkannya sebagai fasilitas umum yang menghambat fungsi awal.
 
"Penyandang difabel juga kan masyarakat umum, bagian dari lingkungan kita," cetusnya.
 
Ulya memberi perspektif sekaligus mengingatkan publik, kelompok masyarakat non difabel berpotensi sebagai difabel. Hal itu dapat terjadi manakala tubuh kehilangan fungsinya.
 
"Non difabel berpotensi difabel. Ketika kita tua dan kehilangan daya tahan tubuh, kita itu difabel," terangnya.
 
Sayang, imbuh mahasiswi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon ini, kebanyakan orang tak berpikir ke arah sana. Rerata justru mengkotakkan status strata sosial antara penyandang difabel dan non difabel.
 
Untuk menciptakan ruang publik yang ramah difabel, sebutnya, tergantung pada kerjasama masyarakat difabel maupun non difabel. Kuncinya, kesepakatan antar ke-2 kelompok masyarakat itu untuk menciptakan keberagaman.
 
"Masyarakat, dari atas sampai bawahannya, harus memahami bagaimana memperlakukan masyarakat difabel," katanya.
 
Dia mengatakan, sedianya ada instansi atau lembaga yang menyediakan fasilitas maupun layanan ramah difabel. Dia menunjuk salah satunya Polresta Cirebon yang menyediakan layanan check up kesehatan bagi difabel atau keberadaan SIM D bagi pengendara difabel.
 
Perlakuan ramah difabel diharap Ulya tak sebatas di atas kertas atau hanya dipahami pemegang kebijakan. Pemahaman atas perlakuan terhadap difabel harus pula dimiliki para petugas lapangan dari instansi atau lembaga pelayan publik.
 
"Tapi, difabel bukan untuk dikasihani. Difabel butuh pemberdayaan, jangan bikin mereka tidak berdaya sehingga berpikir pragmatis dan menjadi ketergantungan," pintanya.
 
Di sisi lain, dia pula meminta masyarakat penyandang difabel untuk mengubah pola pikir. Difabel bukanlah subjek yang keterbatasannya harus dikasihani untuk kemudian dieksploitasi.
 
"Jangan sampai kita jadi sampah masyarakat, difabel tetap bisa berkarya. Tonjolkan kelebihan kita, bukan kekurangannya," tegasnya

AYO BACA : Aturan Lengkap THR Lebaran 2021 Dimassa Pandemi Covid-19

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar