Cara Membaca Black Box, dan Asal-usul Kotak Hitam dalam Sejarah Penerbangan Dunia

  Minggu, 10 Januari 2021   A. Dadan Muhanda
Black Box yang berwarna oranye terang berisi rekaman data yang penting mengungkap penyebab kecelakaan (istimewa)

AYOCIREBON.COM-- Black Box atau kotak hitam berperan penting mengungkap sebuah kecelakaan pesawat terbang. Black box sedianya tidak berwarna hitam, melainkan oranye cerah biar mudah ditemukan.

Oranye merupakan warna terang yang bisa mencolok di berbagai kondisi, baik hutan maupun dasar lautan saat terjadi kecelakaan pesawat.

Pun begitu dalam tragedi jatuhnya pesawat terbang Sriwijaya Air B737-500 SJ182. Keberadaan Black box menjadi krusial untuk mengungkap penyebab pesawat jatuh, apakah ada kelalaian manusia atau kegagalan oprasional pesawat.

Black box merupakan dua buah kotak yang harus ada dalam setiap pesawat terbang.

Keduanya adalah Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). Kedua boks itu menyimpan informasi penerbangan dan membantu dalam rekonstruksi berbagai peristiwa yang terjadi di pesawat termasuk kecelakaan pesawat terbang. 

Kebutuhan Black Box mulai dibahas di industri penerbangan pada era 1950-an. banyak otoritas transportasi dan investigator di belahan dunia kesulitan menemukan penyebab jatuhnya pesawat.

Dari situlah muncul ide untuk memasang alat perekam ke dalam pesawat. Awalnya seluruh informasi yang terjadi di pesawat terekam ke strip logam.

Namun berubah ke drive magnetik karena dianggap lebih banyak menyimpan informasi. Seiring waktu dengan informasi yang perlu terus direkam drive magnetik juga diganti dengan sebuah memori chip yang superkuat.

Lalu mengapa Black Box sangat dibutuhkan untuk investigasi pesawat jatuh? Seperti disebutkan di awal, dua kotak Black Box, yakni perekam suara kokpit (CVR) dan perekam data penerbangan (FDR), merekam semua informasi tentang penerbangan dan membantu merekonstruksi peristiwa yang menyebabkan kecelakaan pesawat.

Selain itu CVR juga merekam transmisi radio dan suara lain di kokpit seperti percakapan antara pilot, suara mesin. Saat bekerja FDR juga mencatat lebih dari 80 jenis informasi seperti ketinggian, kecepatan udara, arah penerbangan, percepatan vertikal, pitch, roll, status autopilot dan lain-lain.

Para perancang kemudian membuat agar black box ini tahan banting dan tahan panas, agar tidak rusak saat terjadi benturan atau ledakan. 

Maka dari itu, black box disimpan di sebuah tempat yang terbuat dari baja atau titanium. Tempat itu juga terisolasi dari panas ekstrem, dingin dan basah.

Agar semakin terlindungi biasanya ditaruh di bagian ujung ekor pesawat. Bagian itu diketahui merupakan tempat yang paling kecil menerima dampak apabila pesawat jatuh.

AYO BACA : Pesawat Sriwijaya Air Rute Jakarta Pontianak Hilang Kontak

Black box juga dilengkapi dengan suar yang akan mengirimkan sinyal selama tiga puluh hari.

Setelah ditemukan, investigator membutuhkan waktu untuk menganalisa rekaman yang ada di Black Box. 

 Sementara itu, penyidik akan mencari petunjuk lain seperti pencatatan dari personel pengatur lalu lintas udara dan rekaman percakapan Air Traffic Control (ATC) dan pilot beberapa saat sebelum kecelakaan.

Ini akan membantu tim investigasi memahami apakah pilot menyadari bahwa mereka berada dalam situasi yang mengarah pada kemungkinan kecelakaan.

Jika memang iya, perlu diketahui apakah pilot sudah melaporkan masalah tersebut atau tidak. Selain itu, penyelidik juga akan melihat berbagai perekam data di bandara, yang akan memberi tahu mereka tentang titik pendaratan yang tepat di landasan pacu dan kecepatan saat pesawat mendarat.

Namun, sayang untuk mengetahui seluruh informasi yang dalam black box, publik tidak bisa mendapatkannya salam waktu cepat. Dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk membaca rangkaian data di dalam kotak hitam.

Mengutip “Flight Data Recorder Handbook for Aviation Accident Investigation” dari National Transportation Safety Boards (NTSB) proses pembacaan black box hanya bisa dilakukan oleh pihak terbatas karena berisi data yang sangat sensitif dan penting.

Black box yang ditemukan segera dikirim ke laboratorium perekam di markas besar Safety Board di Washington, DC, Amerika Serikat.

Kotak penting ini harus dikirimkan dalam kondisi seaman mungkin agar data yang tersimpan di dalamnya dapat sampai dengan selamat di Washington DC.

Terdapat beberapa peraturan yang harus dipatuhi, misalnya black box yang ditemukan di dalam air harus dikemas di dalam air pula. Dalam hal ini, pengemasan dilakukan di dalam air tempat ditemukan.

Setelah itu, benda itu dimasukkan ke dalam kotak dan dilapisi dengan bubble wrap atau dilindungi dengan gabus agar terlindung dari segala kemungkinan buruk selama pengiriman.

Sebelum diangkat, informasi terkait jenis black box yang digunakan dan penerbangan yang mengalami kecelakaan harus dikirimkan kepada Vehicle Recorder Division dan spesialis black box.

Informasi yang dikabarkan itu misalnya mengenai tipe pesawat, nomor penerbangan, waktu dan ketinggian kejadian, landasan pacu yang digunakan saat lepas landas, tipe dan nomor seri black box yang digunakan, parameter yang direkam, konfirmasi algoritma pada tiap parameter, maskapai penerbangan, riwayat perawatan black box, dan lain sebagainya. Hal ini untuk membantu membaca black box yang dikirimkan.

AYO BACA : Sosok Kopilot Fadly Satrianto korban Sj-182 yang Gagal Menikah

Dilarang Membuka Data Sembarangan.

Black box yang ditemukan sangat tidak diperkenankan untuk dibuka di lokasi kejadian. Benda itu harus diamankan dan hanya dapat dibuka oleh pihak yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk melakukannya. Di Indonesia otoritas yang berwenang adalah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Pihak pemeriksa segera mengunduh data yang tersimpan di black box kemudian disimpan dalam format digital agar data aman.

Jika black box mengalami kerusakan, kerusakan itu harus didokumentasikan. Kemudian, ahli membuka rekaman dengan menggunakan alat pemotong atau peralatan khusus lainnya.

Data yang sudah terbaca kemudian akan dikoordinasikan melalui jalur komunikasi yang aman, tidak menggunakan ponsel portabel dan yang lainnya.

Kemudian, data awal yang sudah terbaca tersebut disampaikan kepada pihak-pihak yang ada di tempat kejadian.

Data yang didapatkan kemudian akan divisualisasikan dalam bentuk animasi agar mudah dipahami oleh orang awam.

Namun, tidak setiap kecelakaan pesawat data black box-nya dibuat dalam format animasi. Pembuatan animasi ini memerlukan informan-informan khusus sebagai sumber untuk melengkapi data primer dari black box.

Animasi yang sudah dibuat, tidak dibenarkan untuk dipublikasikan secara bebas, kecuali pada waktu yang telah ditentukan. Sebelum dirilis, animasi harus diteliti terlebih dahulu.

Langkah selanjutnya adalah laporan akhir yang berisi informasi tentang jenis black box yang dibaca, kerusakan (didokumentasikan), beserta metode ekstraksi data yang digunakan.

Kemudian, kepala pemeriksa me-review dan memastikan laporan akhir yang akan disampaikan ke pihak pengirim atau pemilik black box sudah tepat.

Sabtu, 9 Januari 2021 untuk kesekian kalinya terjadi kecelakaan pesawat jatuh di Indonesia.  Kali ini menimpa maskapai penerbangan Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 rute Jakarta-Pontianak.

Pesawat Sriwijaya jatuh di Kepulauan Seribu. Sehari kemudian, Minggu 10 Januari 2021, titik lokasi keberaasaan black box ditemukan. Sampai berita ini diturunkan tim Basarnas belum bisa mengangkat kotak hitam dari dasar lautan.

Mudah-mudahan dengan ditemukannya kotak hitam berwarna oranye itu bisa mengungkap tabir tragedi jatuhnya SJ-182.

Terpenting adalah, dari rekaman data di black box, kita bisa belajar apakah kecelakaan ini akibat kelalaian manusia atau ada kesalahan atau kegagalan mesin sehingga pada masa mendatang kejadian kecelakaan pesawat tidak terjadi lagi.Semoga!

AYO BACA : Instastory Pamitan di Akun Ratih Windania yang bikin Pilu sesaaat sebelum Naik SJ 182

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar