Warga Banyak Berkeliaran, Tenaga Kesehatan di Kota Cirebon Kelelahan

  Selasa, 29 September 2020   Erika Lia
Ilustrasi -- Sejumlah wisatawan mengunjungi kawasan wisata Wayang Windu Panenjoan, Pangalengan, Kabupaten Bandung, Minggu (21/6/2020). Kawasan wisata di Kabupaten Bandung mulai dipadati wisatawan yang hendak menghabiskan akhir pekan tengah pandemi pada era Adaptasi Kebiasaan Baru. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kota Cirebon, Edy Sugiarto mengaku para tenaga kesehatan (nakes) sudah kelelahan dalam penanganan pasien Covid-19 yang terus bermunculan.

Sebagaimana diketahui, Kota Cirebon kini termasuk salah satu daerah di Jawa Barat yang terkategori zona merah. Sepanjang 6 bulan terakhir, sejak penyakit menular Covid-19 mewabah, kasus di Kota Cirebon belum beranjak turun.

Belakangan, nyaris setiap hari terjadi penambahan kasus. Sejauh ini, tercatat total 232 kasus di Kota Cirebon.

Seluruh kalangan, termasuk warga yang berprofesi sebagai nakes, tak terhindar dari serangan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Sejauh ini, sedikitnya 12 dokter di Kota Cirebon terpapar Covid-19. Salah satunya, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) setempat, Edial Sanief.

"Melelahkan, tenaga kesehatan sudah letih, sudah 6 bulan lebih (pandemi). Bukan hanya mental, hati dan pikiran juga (lelah) karena mereka bekerja berhadapan dengan pasien positif Covid-19," aku Edy, Senin (28/9/2020).

Selain kelelahan, otoritas penanganan Covid-19 Kota Cirebon pun kini mulai menghadapi krisis ketersediaan tempat tidur untuk perawatan pasien. Di gedung eks BKKBN yang dimanfaatkan sebagai lokasi karantina pasien berstatus ringan dan tanpa gejala, kini tersisa 2 tempat tidur kosong.

Sementara, di RSD Gunung Jati sebagai salah satu rumah sakit yang merawat pasien bergejala sedang hingga berat, sekitar 80% tempat tidur sudah terisi. Edy menyebut, secara keseluruhan, situasi di Kota Cirebon kini semakin menyulitkan.

"Sudah sulit, AKB (adaptasi kebiasaan baru) dibuka, semua dibuka. Orang berkeliaran dari mana-mana, tinggal 'panen' saja terus sampai ada vaksin," ungkapnya.

Untuk menangani ini, strategi utama yang dijalankan pihaknya terletak pada testing/pengujian, tracing/penelusuran, treatment/perawatan, hingga isolating/karantina, secara masif.

Dia mengklaim, sejauh ini sudah melakukan testing bagi 4% dari total jumlah penduduk, sementara capaian tracing sekitar 7.000 jiwa.

Di sisi lain, mengantisipasi ledakan kasus, pihaknya pun tengah menyiapkan sedikitnya 200 kamar pada 3 hotel yang disewa sebagai lokasi karantina.

"Kami juga menambah nakes dengan membuka rekrutmen. Sudah ada 2 dokter yang diwawancara dan lolos," ujarnya.

Rekrutmen terbuka dilakukan dengan alasan kelelahan yang dialami para dokter puskesmas. Dalam sehari, imbuhnya, mereka harus menangani 100-200 pasien, ditambah pasien di gedung eks BKKBN.

Dibutuhkan total 36 paramedis dan 18 tenaga umum untuk ditempatkan di 3 hotel yang menjadi lokasi karantina. Rencananya, mereka mulai bertugas 1 Oktober 2020.

Dia memastikan insentif bagi nakes lancar, terutama yang bersumber dari APBD. Kabar baik lain selain insentif, dia pun menjamin ketercukupan alat pelindung diri (APD) hingga Desember 2020.

"Kepentingan masyarakat tetap harus diutamakan," tegasnya.

Wakil Wali Kota Cirebon, Eti Herawati meyakinkan, sosialisasi ihwal penerapan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 kepada publik terus dilakukan, mengingat penyebaran yang meningkat.

"Sosialisasi kepada warga terus dilakukan," cetusnya.

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar