Pasar Muludan Ditiadakan, Ritual Panjang Jimat Bakal Digelar Terbatas

  Rabu, 23 September 2020   Erika Lia
Area sekitar Keraton Kasepuhan Cirebon kali ini lebih lengang dari pedagang musiman yang biasanya meramaikan pasar rakyat muludan. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Kesultanan Kasepuhan Cirebon meniadakan pasar rakyat Muludan. Tradisi Panjang Jimat pada puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pun digelar terbatas.

Covid-19 telah memaksa perubahan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini. Pasca kebijakan peniadaan muludan secara terbuka oleh Pemkot Cirebon, Sultan Sepuh XV Pangeran Raja Adipati Luqman Zulkaedin pun mengeluarkan maklumat untuk meniadakan pasar rakyat.

Pasar rakyat lazim digelar sebulan sebelum puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Setiap tahun, sebelum Covid-19 mewabah, area sekitar keraton di 3 kesultanan Cirebon, masing-masing Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan, ramai oleh para pedagang musiman.

"Pedagang musiman di Alun-alun Keraton Kasepuhan ditiadakan," kata Sultan Luqman melalui maklumatnya, Selasa (22/9/2020) petang.

Pada tradisi muludan di Cirebon, ritual Panjang Jimat menandai puncaknya yang digelar di masing-masing Keraton. Sebelum Panjang Jimat, serangkaian ritual lain mendahului, di antaranya Siraman Panjang atau pencucian alat makan seperti piring, mangkuk, hingga guci dan senjata kuno yang akan digunakan kala Panjang Jimat.

Sayang, kali ini ritual yang kerap mengundang antusiasme wisatawan itu pun terpaksa ditiadakan. Kesultanan Kasepuhan mengganti upacara Panjang Jimat secara terbatas.

"Upacara tradisi Panjang Jimat ditiadakan, diganti dengan pembacaan sholawat, dzikir, doa, dan pembacaan Kitab Barzanji oleh Kaum Masjid Agung, keluarga sultan, abdi dalem, secara terbatas dan mengikuti protokol kesehatan," paparnya.

Tak hanya Panjang Jimat, tradisi Caos atau silaturahmi para wargi dengan sultan pun akan dilaksanakan terbatas. Selain itu, dijanjikan mengikuti protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang berlaku.

Pembatasan hingga peniadaan agenda budaya di kesultanan Cirebon, diyakinkannya demi mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit menular Covid-19.

"Ini berdasarkan imbauan dan kebijakan Pemkot Cirebon serta mencegah dan melindungi masyarakat dari penularan Covid-19," tegasnya.

Sekalipun pandemi ini telah mengubah pelaksanaan tradisi di Kesultanan Kasepuhan, dia memastikan destinasi wisata budaya yang dikelola pihaknya, seperti Astana Gunung Jati dan Taman Goa Sunyaragi, tetap terbuka untuk umum. Protokol kesehatan pun berlaku.

Dalam kesempatan itu pula, pihaknya mengajak semua orang untuk menjaga kesehatan dan keselamatan.

"Mari berdoa agar Covid-19 segera berakhir, aamiin," tutupnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar