Dulu Pakai Daging Kerbau, Ini Kisah Empal Gentong Cirebon Kini Pakai Daging Sapi

  Sabtu, 04 Juli 2020   Erika Lia
Empal Gentong Cirebon, khas dinikmati dengan cabai bubuk bagi penyuka pedas. (ayicirebon/Erika Lia)

PLERED, AYOCIREBON.COM -- Tren tranformasi lahan pertanian menjadi pemukiman memengaruhi bahan primer empal gentong. Sapi kini menggantikan kerbau sebagai pemain utamanya.

Empal gentong belakangan menjadi kuliner khas Cirebon yang populer. Menemani serangkaian kuliner tradisional Cirebon lainnya, mencicipi empal gentong menjadi salah satu hasrat para pelancong.

Tak ada yang tahu pasti sejak kapan empal gentong muncul dan siapa penciptanya. Namun, di masa silam, empal gentong konon merupakan makanan mewah yang hanya disajikan kepada orang-orang ningrat dan berduit.

"Empal gentong muncul sekitar abad ke-19 seiring industri gula di Cirebon," ungkap pemerhati budaya Cirebon yang juga pengajar budaya dan seni pada Politeknik Pariwisata Prima Internasional Cirebon, Mustaqim Asteja kepada Ayocirebon.com, Jumat (3/7/2020).

Ketika itu, empal gentong diantarkan dengan cara dipikul kepada orang-orang kaya, seperti keluarga keraton, saudagar Cina, hingga bangsawan Belanda yang ketika itu menduduki Indonesia.

Meski belum diketahui pasti kemunculan pertamanya, empal gentong diyakini sebagai hasil cipta rasa atas kekayaan alam Indonesia berupa rempah-rempah. Bumbu rempah yang berpadu dengan potongan daging membuat olahan gulai khas Cirebon ini bertahan sampai kini.

Eksistensi empal gentong tak terusik, walau bahan elementernya berganti. Dahulu, empal gentong diketahui menggunakan daging kerbau, berbeda dengan sekarang yang memanfaatkan daging sapi.

"Dulu empal gentong pakai daging kerbau karena banyak jumlahnya," ujar Mustaqim yang dikenal pula sebagai pendiri komunitas Kendi Pertula ini.

Situasi Cirebon yang masih berupa tanah luas dengan persawahan sejauh mata memandang, membuat populasi kerbau melimpah. Tenaga kerbau di antaranya dimanfaatkan untuk membajak sawah, hingga sebagai alat bantu jasa ekspedisi bagi para kolonial.

Kerbau menjadi hewan yang esensial kala itu. Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ke-36, Herman Willem Daendels dikabarkan menyukai perjalanan menggunakan pedati yang ditarik kerbau kala melintasi Jalan Raya Pos yang membentang sepanjang Anyer hingga Panarukan.

"Konon Daendels suka naik pedati yang ditarik kerbau. Salah satunya ketika melintasi jalan di wilayah Cirebon yang menjadi salah satu bagian dari Jalan Raya Pos, yang membentang dari bagian barat Kabupaten Cirebon hingga Kota Cirebon," ujarnya.

Salah satu ruas jalan yang dimaksud kini dikenal sebagai sentral empal gentong, yakni Jalan Raya Plered, Kabupaten Cirebon. Di masa lampau, area sekitar masih berupa persawahan dengan pohon asam di tepian jalannya.

Proyek jalan yang digarap Daendels, imbuh Mustaqim, menjadi salah satu titik berat dalam kemunculan empal gentong. Pun begitu dengan pohon asam yang tumbuh subur dan banyak, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar dalam proses pengolahannya.

Sayang, peralihan areal sawah menjadi pemukiman telah menurunkan populasi kerbau. Tak hanya di Cirebon, kondisi nyaris serupa terjadi pula di daerah lain.

Sekalipun sawah masih dijumpai, pemanfaatan tenaga kerbau sebagai 'mesin' bajak kini telah diganti dengan traktor. Alhasil, seiring waktu, kerbau menjadi hewan yang jarang ditemui.

"Sampai sekitar 1980, kerbau masih menarik pedati, terutama di kawasan pedesaan. Tapi, pasca era reformasi, sawah yang dibajak dengan weluku yang menggunakan kerbau sudah enggak ada lagi, terutama di kawasan urban," tuturnya.

Kondisi itu mendorong kehadiran sapi yang lantas menggantikan kerbau sebagai bahan empal gentong. Dari segi tekstur, daging kerbau lebih tebal dibanding daging sapi. 

Namun, imbuhnya, hal itu tak mengurangi kenikmatan empal gentong hingga kepopulerannya terus bertahan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar