Cirebon Gerah, Ini Tips dari BMKG

  Rabu, 27 Mei 2020   Erika Lia
ilustrasi -- pengendara motor berteduh menghindari terik matahari. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

SUMBER, AYOCIREBON.COM -- Masyarakat di Wilayah Cirebon mengeluhkan rasa gerah selama beberapa waktu belakangan. Kipas angin hingga air conditioning (AC) tak jarang beroperasi optimal, hampir sepanjang hari.

Ibrahim, warga Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, misalnya, mengaku kerapkali kegerahan meski di pagi hari. Suasana itu semakin menjadi pada siang hingga sore.

"Habis mandi pun tak lama kemudian terasa gerah lagi. Malam sama saja," ujarnya, Rabu (27/5/2020).

Kondisi itu membuat kipas angin di rumahnya bekerja nyaris tanpa henti. Tak ada AC di rumah yang ditempatinya bersama keluarga.

Kaos oblong dan celana pendek pun jadi pilihan saat di rumah. Sementara di luar rumah, cuaca panas menyengat membuatnya enggan berlama-lama.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan, suasana gerah secara meteorologis disebabkan suhu udara yang panas disertai kelembapan udara yang tinggi.

"Kelembapan udara yang tinggi menyatakan jumlah uap air yang terkandung pada udara," katanya dalam siaran publik yang diterima Ayocirebon.com dari BPBD Kabupaten Cirebon.

Semakin banyak uap air yang dikandung dalam udara, akan semakin lembap udara tersebut. Bila suhu meningkat akibat pemanasan matahari langsung karena berkurangnya tutupan awan, suasana akan lebih terasa gerah.

Wilayah perkotaan, terutama kota besar, umumnya memiliki suhu udara lebih panas dibanding bukan wilayah perkotaan.

Catatan kelembapan udara sendiri menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kisaran >80%-100%, yang termasuk berkelembaban tinggi.

"Fenomena udara gerah sebenarnya biasa saat memasuki musim kemarau," ujarnya.

Udara panas gerah juga lebih terasa bila hari menjelang hujan sebab udara lembab melepas panas laten danĀ  panas sensibel, yang menambah panasnya udara akibat pemanasan permukaan oleh radiasi matahari.

Dia menyebutkan, hingga pertengahan Mei 2020 setidaknya 35% wilayah Zona Musim (ZOM) sudah memasuki musim kemarau, di antaranya sebagian besar wilayah di NTT dan NTB, sebagian Jawa Timur bagian selatan, sebagian Jawa Tengah bagian utara dan timur, sebagian Jawa Barat bagian utara dan timur serta Bekasi bagian utara, Jakarta bagian utara, dan sebagian daerah Papua dan Maluku.

Pihaknya mengimbau masyarakat tidak panik dengan suasana gerah yang terjadi. Namun, tetap mengingatkan untuk menjaga kesehatan dan stamina sehingga tak terjadi dehidrasi dan iritasi kulit.

"Banyak minum dan makan buah segar sangat dianjurkan, termasuk memakai tabir surya, sehingga tak terpapar langsung sinar matahari yang berlebih," tuturnya.

Dia juga meminta masyarakat lebih banyak berdiam di rumah, terlebih selama pemberlakuan PSBB.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar