Tradisi Obrog di Cirebon, Dulu dan Sekarang

  Selasa, 19 Mei 2020   Erika Lia
Tradisi obrog. (infomjlk)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Di Cirebon, ramadan kerap diramaikan dengan tradisi obrog. Sekumpulan orang berkeliling mendorong gerobak berisi peralatan musik yang diperdengarkan ke seantero kampung.

Bukan sekedar memainkan musik, mereka yang biasanya terdiri dari pemuda, bahkan anak-anak, itu menyerukan warga untuk bangun dan sahur. Inilah tujuan utama obrog.

Pemerhati budaya Cirebon, Nurdin M Noer mengatakan, tak hanya di Cirebon, tradisi obrog berlaku pula di seluruh Jawa, bahkan Indonesia, sejak lama.

"Sekitar 1970 di Desa Gegesik Kidul, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, tradisi obrog dimulai pukul 01.00 WIB. Mereka terdiri dari 20-30 orang yang membawa obor beserta perlengkapan gamelan tradisional lengkap," ungkapnya kepada Ayocirebon.com, Selasa (19/5/2020).

Perlengkapan gamelan yang dibawa merupakan seperangkat gamelan tradisional, seperti gong, gendang, kecrek, juga kemong.

Mereka, imbuhnya, berkeliling desa untuk membangunkan orang sahur dengan dibiayai pemerintah desa.

"Yang gamelan ini tradisi khas Cirebon," cetusnya.

Namun, telah terjadi perubahan saat ini. Seiring kemajuan selera masyarakat, obrog di pedesaan memanfaatkan perlengkapan musik berbeda.

Bukan lagi seperangkat gamelan yang mereka bawa, melainkan tape recorder dan pengeras suara.

"Peralatan musiknya diangkut becak. Dengan cara itu mereka anggap lebih praktis," ujarnya.

Di kawasan urban, tradisi ini dilakukan lebih berbeda lagi. Menurut Nurdin, sekumpulan pemuda menabuh alat-alat musik seadanya, seraya menyanyi lagu-lagu dangdut dan menari sepanjang jalan yang dilintasi.

Mendekati Idulfitri, para pengobrog (sebutan bagi sekumpulan orang yang terlibat dalam tradisi itu) biasanya mendatangi rumah-rumah untuk meminta santunan sekedarnya dari masyarakat setempat.

"Biasanya, malam obrog diakhiri dengan pawai keliling kota atau takbiran keliling. Diakhiri festival obrog, kemudian di Keraton Kasepuhan ditabuh Gamelan Sekaten," tambah Nurdin yang juga mantan jurnalis ini.

Di perkotaan, tradisi obrog pada masa lalu dinilainya lebih meriah dibanding saat ini.(erika lia)



(Erika Lia L/PicsArt)
 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar