Kurang Air, Petani di Indramayu Lakukan Persemaian Kering

  Jumat, 27 Desember 2019   Erika Lia
Ilustrasi sawah kering. (ANTARA FOTO/Rahmad)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Indramayu terpaksa melakukan persemaian kering pada musim tanam rendeng (penghujan) 2019/2020.

Langkah itu harus dilakukan petani mengingat mereka masih kekurangan pasokan air, sekalipun hujan sudah lebih sering turun belakangan ini.

Persemaian kering salah satunya dilakukan petani di sembilan desa di Kecamatan Kandanghaur. Kesembilan desa itu masing-masing Bulak, Curug, Girang, Ilir, Karanganyar, Karangmulya, Panjunan, Pranti, dan Wirakanan.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono menyebut, sedikitnya 5.000 hektar luas lahan pertanian yang menggunakan persemaian di kecamatan bersangkutan.

"Soalnya curah hujan masih rendah di sini (Kandanghaur)," katanya mengemukakan alasan persemaian kering oleh petani, Jumat (27/12/2019).

Bukan itu saja, pasokan air dari berbagai sumber air, seperti Waduk Jatigede, Jatiluhur, dan Cipanas, terbilang minim. Sementara, Kandanghaur terletak di ujung layanan ketiga sumber air tersebut

Dengan kondisi geografis semacam itu, persemaian kering sesungguhnya hal yang lazim mereka lakukan setiap awal musim tanam rendeng. Namun begitu, luas lahan pertanian yang melakukan persemaian kering kali ini lebih besar ketimbang tahun-tahun sebelumnya.

"Sampai akhir Desember 2019, pasokan air dari hujan maupun irigasi sangat kurang," keluhnya.

Dia menambahkan, musim tanam kali ini mundur dari biasanya. Itu pula yang menjadi alasan petani melakukan persemaian kering.

Dengan persemaian kering sekarang ini, petani baru akan melakukan pada 20-30 Januari 2020. Hanya, penanaman baru bisa terealisasi ketika pasokan air cukup.

"Kalau nggak, persemaian yang sudah dilakukan nanti tak akan bisa ditanam," ujarnya.

Idealnya, usia persemaian sebelum ditanam berkisar 20-25 hari atau maksimal 30 hari. Bila lebih dari waktu itu, umur persemaian akan terlalu tua untuk ditanam sehingga akan berdampak pada kurangnya hasil panen.

Dia mengakui, dibanding persemaian basah, persemaian kering memakan biaya besar. Karena itu, persemaian basah sebenarnya lebih disukai petani.

Persemaian kering membuat pengolahan tanah membutuhkan waktu lebih lama. Selain menggunakan traktor, persemaian kering memerlukan pula jumlah buruh tani lebih banyak.

"Upah untuk membayar mereka (buruh tani) lebih besar. Makanya persemaian kering lebih butuh modal besar," ungkapnya.

Untuk benih, sambungnya, persemaian kering memerlukan 30-40 kilogram per hektare. Sementara benih dalam persemaian basah hanya butuh sekitar 15 kg/hektar.

Tak hanya Kandanghaur, persemaian kering diketahui pula dilakukan petani di Kecamatan Gabuswetan dan Losarang.

Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang membeberkan, akibat kekurangan pasokan air, tak sedikit petani yang bahkan belum mengolah tanah.

"Memang ada yang pakai sistem persemaian kering. Lainnya ada juga yang malah belum mengolah tanah sama sekali," ucapnya.

Dia memastikan, kondisi itu terjadi di daerah-daerah yang kekurangan air.dia pun berharap hujan segera normal agar pasokan air mencukupi untuk tanam musim rendeng ini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar