Harga Garam Lokal di Indramayu Anjlok

  Sabtu, 30 November 2019   Erika Lia
[Ilustrasi] Petani garam di Kabupaten Cirebon tengah memanen garam. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

INDRAMAYU, AYOCIREBON.COM -- Harga garam lokal di tingkat petambak di Kabupaten Indramayu semakin turun.

Di Kecamatan Losarang, misalnya, harga garam di tingkat petambak kini hanya berkisar Rp150-Rp200 per kilogram.

"Sebelumnya tak pernah sampai di harga Rp150/kg. Cuma pernah sampai Rp70/kg pada 2007," ujar seorang petambak garam di Kecamatan Losarang.

Kondisi harga garam yang jatuh ini dipengaruhi masuknya garam impor sejak 2018.

Kala panen awal pada Juli 2019, harga garam di tingkat petambak bahkan berkisar Rp300-Rp400 per kg.

Harga itu terus merosot menjadi Rp270-Rp300 per kg pada September. Tak bertahan lama, harganya kembali ambruk di kisaran Rp150-Rp200 per kg.

Kondisi itu berbeda saat musim garam dua tahun lalu yang harganya mencapai Rp2.000-Rp2.500 per kg.

Namun, memasuki 2018, harga garam tak membaik hingga menumpuk akibat tak laku terjual. Tumpukan garam terus bertambah dengan adanya produksi garam 2019. 

Rendahnya harga garam pada saat akhir musim kemarau sebelumnya, imbuhnya, tak pernah terjadi. Sebaliknya, harga garam biasanya akan meningkat seiring berakhirnya masa produksi garam seiring masuknya musim hujan.

Menurut salah seorang petambak garam, Robedi, rendahnya harga garam membuat petambak pemilik lahan memilih menyimpan garamnya. Sementara itu, petambak yang tak punya lahan terpaksa menjual garamnya sekalipun dengan harga rendah.

"Sebenarnya sih rugi," ujarnya.

Menurutnya, harga garam di tingkat petambak minimal Rp500/kg agar petambak bisa merasakan keuntungan.

Dia mengatakan, rendahnya harga garam saat ini bahkan berdampak pada penelantaran lahan siap panen oleh sejumlah petambak. Hasil panen yang diperoleh tak bisa menutup modal yang dikeluarkan.

Dia menyatakan, rendahnya harga garam akan menurunkan minat petambak untuk kembali memproduksi garam pada tahun depan.

"Saya harap ada kepedulian dari pemerintah untuk membantu nasib petambak garam," harapnya.

Tak hanya di Losarang, merosotnya harga dialami pula petambak garam di Kecamatan Krangkeng.

Salah seorang petambak, Prima mengungkapkan, harga garam kualitas satu di Krangkeng hanya Rp150/kg. Untuk garam berkualitas di bawahnya dihargai Rp120/kg.

"Harga garam tahun ini parah sekali. Selama ini belum pernah sampai cuma dihargai Rp150/kg," cetusnya.

Kondisi itu, diperkirakannya telah membuat beberapa hektar lahan garam ditinggal begitu saja oleh para pemiliknya. Hasil panen yang diperoleh dianggap tak bisa menutup biaya yang dikeluarkan petambak.

Sementara, salah seorang pengepul garam di Kecamatan Krangkeng, Jamaludin menyatakan, penurunan harga garam lokal sebab kualitasnya kalah saing ketimbang kualitas garam impor.

"Kualitas garam impor lebih bagus daripada garam lokal. Makanya, garam lokal menumpuk karena tak laku di pasaran," ungkapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->