Pengangkatan Tujuh Pejabat Pemkot Cirebon Libatkan Istri Sampai Tetangga Rumah

  Jumat, 08 November 2019   Erika Lia
Pengangkatan tujuh pejabat eselon II di lingkungan Pemkot Cirebon menghadirkan para istri. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

KEJAKSAN, AYOCIREBON.COM -- Pengangkatan jabatan tujuh pimpinan tinggi Pratama (eselon II B) di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon diwarnai kehadiran para istri. Dalam prosesnya, opini tetangga rumah pun diklaim dilibatkan.

Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis mengaku, sengaja meminta kehadiran para istri dari ketujuh pejabat eselon II yang dilantik hari ini sebagai bentuk dukungan.

"Saya sengaja minta ibu-ibu datang untuk mendukung prestasi suami," ungkapnya saat melantik di aula Adipura Kencana, Balai Kota Cirebon, Jumat (8/11/2019).

Kehadiran para istri ditekankan Azis sebagai hal yang krusial karena dipandang akan bisa mendorong kinerja suaminya masing-masing.

Ketujuh pejabat yang dilantik hari ini sendiri merupakan hasil seleksi terbuka. Mereka terdiri dari Agus Suherman sebagai Kepala Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata, Syaroni sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Sosroharsono sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Ma'ruf Nuryasa sebagai Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik, Irawan Wahyono sebagai Kepala Dinas Pendidikan, Suwarso Budi Winarno sebagai Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, serta Agus Herdhyana sebagai Asisten Administrasi Umum.

Azis mengklaim keterpilihan ketujuh orang itu sebagaimana kompetensi yang yang disyaratkan. Ketujuhnya telah 'menyingkirkan' dua kandidat lain yang masuk tiga besar pada masing-masing seleksi jabatan yang dibuka.

Azis meyakinkan, sebelum mengerucut tiga besar, dirinya dan wakil wali kota tak turut campur. Proses itu menjadi kewenangan panitia seleksi (pansel). "Saat di pansel, saya dan wakil wali kota nggak ikutan," ujarnya seusai pelantikan.

Dia menjamin, tiga besar yang terpilih pada masing-masing seleksi jabatan telah memenuhi syarat, di antaranya akademis, kemampuan/skill dalam kepemerintahan, hingga rekam jejak.

"Sampai tetangga rumah (masing-masing calon pejabat) ditanyain, bagaimana kesehariannya, Salat Jumat nggak. Termasuk atasannya ditanya, proses ini yang lama karena saya, istilahnya nggak mau beli kucing dalam karung," beber Azis kepada Ayocirebon.com.

Setelah proses itu, barulah ditentukan tiga besar. Azis mengakui, subyektivitas berlaku saat dirinya dan wakil wali kota menentukan satu nama dari tiga kandidat pada masing-masing jabatan.

"Ada subyektif, pakai feeling (saat menentukan pejabat). Mudah-mudahan tepat," harapnya.

Pasca dilantik, ketujuh kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) itu diperintahkannya langsung bekerja, tanpa euforia. Di sisi lain, setiap kepala SKPD diberi kewenangan menentukan 'kabinetnya' atau para pejabat-pejabat eselon III dan IV.

"Pejabat yang baru diberi waktu 7-10 hari untuk menyusun 'kabinetnya'. Harus diatur supaya jangan sampai ada posisi yang kosong," pintanya.

Dalam kesempatan itu, Azis pun berpesan agar setiap pejabat menjaga amanah dan tak mengecewakan dirinya dan wakil wali kota.

"Jangan kecewakan kami karena kalau kami kecewa, masyarakat juga akan kecewa," tegasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->