Lembah Panyaweuyan Disergap Kegersangan

  Senin, 04 November 2019   Erika Lia
Pemandangan Lembah Panyaweuyan yang gersang di musim kemarau hingga membuat tingkat kunjungan wisatawan menurun.

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Lembah Panyaweuyan di Desa Tejamulya, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, disergap kegersangan.

Sejauh mata memandang hanya tampak areal persawahan yang hampa tanaman. Angin sejuk khas pegunungan yang bertiup menerbangkan debu lebih banyak dari biasanya.

Musim kemarau tahun ini dikeluhkan sebagian warga setempat. Tanpa air yang memadai untuk mengairi seluruh areal persawahan di sana, musim tanam pun mundur.

Lembah Panyaweuyan selama beberapa tahun terakhir telah menjadi objek wisata primadona Kabupaten Majalengka. Panyaweuyan menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan.

Areal persawahan di sana disusun secara berundak dengan metode terasering. Konon, keindahan Panyaweuyan tak kalah dengan pesona alam serupa di Bali.

Sayangnya, di musim kemarau sekarang ini, Lembah Panyaweuyan tampak kering kerontang. Sawah berundak di sana, kini hanya menampakkan gundukan tanah kosong.

Seorang warga setempat, Dede Hidayat mengungkapkan, kekeringan tahun ini telah berlangsung hampir delapan bulan.

"Harusnya musim tanam bulan sepuluh (Oktober), bulan sebelas (November) harusnya tanah-tanah kosong ini sudah ditanami. Sekarang (tahun ini) mah ketelatan (terlambat) musim tanamnya," katanya kepada Ayocirebon.com pada Minggu (3/11/2019).

Tanaman yang ditanam di sana kebanyakan berupa bawang merah dan daun bawang.

Biasanya, sebut Dede yang juga dikenal sebagai pengusaha sayuran ini, saat panen produksi bawang merah di Lembah Panyaweuyan mencapai 5-7 ton/hari. Sementara, produksi daun bawang mencapai 10 ton/hari.

Bawang merah hasil tanam petani di sana biasanya dibawa ke Jakarta. Sedangkan, daun bawang biasanya dibawa ke Kabupaten Wonosobo maupun daerah lain di Jawa Tengah.

"Kalau tanamnya bulan sebelas (November 2019), perkiraan panen bulan satu (Januari 2020). Lalu nanti tanam kembali di bulan dua (Februari 2020)," cetusnya.

Kurangnya pasokan air saat ini sendiri, lanjutnya, membuat petani menanam tanaman palawija seperti jagung dan sejenisnya. Tanaman palawija memang tak membutuhkan banyak air.

Di bagian perbukitan lain, sebenarnya beberapa areal persawahan tampak hijau. Menurut Dede, hal itu disengaja dengan maksud pergantian pemanfaatan lahan.

"Daerah bukit di sana (seraya menunjuk bagian lain bukit yang lebih tinggi) persediaan airnya memang lebih banyak. Yang di bagian sini (Lembah Panyaweuyan) sengaja dikosongkan dulu untuk menjaga (ketersediaan) air," paparnya.

Kala musim hujan tiba dan air berlimpah, barulah seluruh areal persawahan di perbukitan sekitar Gunung Ciremai itu ditanami.

Sementara itu, kegersangan yang mendominasi Lembah Panyaweuyan rupanya berdampak pada tingkat kunjungan wisawatan.

"Ya turun drastis sih (tingkat kunjungan), sampai 70%," tutur pengelola Lembah Panyaweuyan yang juga warga desa setempat, Asep Saefudin.

Sedikitnya 50 wisatawan berkunjung ke Lembah Panyaweuyan setiap harinya. Kala akhir pekan, jumlah itu meningkat tajam menjadi lebih dari 100 pengunjung.

Dengan kondisi sekarang, pihaknya memang tidak bisa berbuat banyak. Dia pun menyarankan Desember sebagai waktu berkunjung terbaik.

"Desember atau menjelang tahun baru, di sini sedang hijau-hijaunya, pemandangannya bagus," bebernya. 

Di Lembah Panyaweuyan, biasanya pengunjung akan menghentikan kendaraannya di salah satu titik yang dianggap cukup tinggi untuk melihat sekeliling.

Di sana, memang terdapat satu lokasi tepat di kelokan jalan dengan lahan sedikit lebih luas. Pengunjung biasanya menepikan kendaraan mereka di sana untuk berfoto.

Selain di titik itu, pengunjung juga bisa menaiki salah satu bukit yang lebih tinggi untuk menikmati pemandangan lembah dari atas.

"Kata orang yang pernah ke Bali sih, kalau dibandingin di sana (Bali) lebih bagus di sini (Lembah Panyaweuyan). Susah cari pemandangan seperti ini," tandas Asep kepada Ayocirebon.com.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar