Lampor dan Sandakala, Legenda Urban Menjelang Maghrib

  Senin, 21 Oktober 2019   Erika Lia
Potongan poster film Lampor Keranda Terbang. (Istimewa)

KESAMBI, AYOCIREBON.COM -- Katanya, ini didasarkan pada kejadian sebenarnya. Suatu pengalaman masa kecil sang sutradara, Guntur Soeharjanto, yang rutin dilarang orang tuanya keluar rumah menjelang waktu magrib.

Adinia Wirasti menyampaikan itu kala konferensi pers film Lampor di Kota Cirebon, Sabtu (19/10/2019).

Dia datang bersama tiga rekan mainnya sesama aktor, masing-masing Dion Wiyoko, Angelia Livie, dan Dian Sidik.

"Jadi ini pengalaman Mas Guntur (sutradara) yang enggak boleh keluar rumah pas Maghrib. Kalau keluar (rumah), nanti digondol (diambil/dibawa) Lampor," kata Adinia, pemeran Netta dalam film Lampor Keranda Terbang.

Pengalaman Guntur barangkali dialami pula sebagian besar orang dewasa lainnya kala menengok masa kecil masing-masing. Larangan orang tua berkeliaran di luar rumah menjelang petang, setidaknya memasuki waktu Maghrib, menjadi salah satunya.

Guntur sendiri memberi catatan dalam rilis yang diberikannya. Lampor, dia kisahkan, merupakan keranda Terbang yang datang pada malam hari.

"Dia (Lampor) datangnya malam hari, berupa keranda terbang, disertai suara pasukan bersuara magis welwoo..welwoo..welwoo," katanya, dikutip Ayocirebon.com dari rilis.

Lampor berkisah seputar kehidupan pasangan suami istri Edwin yang diperankan Dion Wiyoko dan Netta (Adinia Wirasti), bersama dua anak mereka, Adam (Bimasena) dan Sekar (Angelia Livie).

Mereka pulang ke kampung halaman Netta di Temanggung, Jawa Tengah. Kepulangan mereka disambut kecurigaan para tetangga Netta karena bersamaan dengan teror Lampor yang melanda kampung tersebut.

Dalam film produksi Starvision ini, Lampor digambarkan sebagai setan pencabut nyawa yang membawa serta keranda terbang. Nyawa Adam dan Sekar pun terancam ketika Lampor mengincar keduanya.

Sementara, sejalan kisah ini, Edwin pun mengetahui rahasia yang melingkupi Netta.

Bagi Adinia, legenda urban yang menjadi dasar cerita ini merupakan daya tarik film Lampor Keranda Terbang.

"Apalagi ini didasarkan kejadian nyata yang dialami Mas Guntur (sutradara). Di film ini juga diperlihatkan nilai-nilai keluarga yang masih bertahan di masyarakat kita," ungkapnya.

Sementara, Dion Wiyoko merasa karakter tokoh serta para aktor yang terlibat di dalamnya telah menarik minatnya.

"Kebanyakan syutingnya malam, jadi harus jaga stamina. Energi juga terkurang karena tetap ada scene fighting, tapi saya enjoy karena di sana suasananya sejuk dan bersih," tuturnya menggambarkan suasana lokasi syuting di sekitar Gunung Sindoro Sumbing.

Secara keseluruhan, film yang prosesnya memakan waktu sekitar 1,5 bulan ini mengambil tiga lokasi syuting. Selain Temanggung, daerah lain yakni Kendal dan Yogyakarta.

Bagi Dian Sidik, Lampor Keranda Terbang menjadi film bergenre horor pertama yang dibintanginya.

"Saya tertarik karena sinopsis cerita juga para pemain di dalamnya," ujar pria yang dikenal kerap bermain dalam film laga ini.

Berbeda dengan Dion, Adinia, dan Dian yang tak mengaku tak merasakan pengalaman 'horor' selama syuting, aktris cilik Angelia Livie justru kerap melihat 'penampakan' di sekitar lokasi syuting.

Tak hanya itu, gadis kecil ini pun bercerita pengalaman menariknya jatuh dari keranda yang dimanfaatkan sebagai properti film.

"Sempat jatuh dari keranda dan itu sakit karena enggak ada matras di bawahnya. Tapi enggak apa-apa," tuturnya riang.

Lampor sendiri merupakan salah satu legenda urban yang hidup di tengah masyarakat Jawa Tengah. Dia merupakan representasi nilai-nilai kearifan lokal yang mengharuskan anak-anak tak berkeliaran sejak mendekati matahari tenggelam.

Di Cirebon, legenda urban sejenis Lampor setidaknya mewujud dalam tiga makhluk mitos, masing-masing Wewe Gombel, Sandakala, dan Bengaok.

Budayawan Cirebon, Nurdin M Noer memiliki kisah nyaris serupa dengan Guntur. Kala kecil, dia pun kerap 'ditakut-takuti' orang tuanya akan kehadiran ketiga makhluk tersebut bila masih berkeliaran di luar rumah menjelang petang.

"Din, gage balik, engko digondol Sandakala (Din--panggilan Nurdin, cepat pulang, nanti dibawa Sandakala," tutur Nurdin menirukan peringatan orang tuanya dulu di masa kecil.

Tak hanya Sandakala, aku Nurdin kepada Ayocirebon.com, Senin (21/10/2019), sang nenek pun kerap melakukan hal serupa dengan menyebut-nyebut nama Bengaok.

Konon, Bengaok merupakan makhluk gaib berwujud burung hantu. Ketika petang menjelang, bila terdengar suara burung yang bunyinya mirip dengan namanya, Bengaok, orang-orang tua di masa Nurdin kecil, akan menakut-nakuti Bengaok akan menculik sang anak yang masih berkeliaran di luar rumah.

Tak ubahnya Sandakala dan Bengaok, Wewe Gombel pun disebut-sebut 'beroperasi' di waktu yang hampir sama. Makhluk gaib yang konon berjenis betina (Nurdin menghindari penyebutan perempuan karena dinilainya tak elok) bahkan tetap berkeliaran sampai malam dengan misi menculik anak kecil.

Wewe Gombel, Bengaok, dan Sandakala, dahulu kerap disebut-sebut para orang tua di Cirebon khususnya.

"Maksudnya sih baik, supaya anak-anak itu menyudahi waktu bermainnya, pulang ke rumah untuk salat, mengaji sampai waktu Isya, kemudian mengerjakan tugas sekolah dan tidur untuk istirahat," papar Nurdin yang juga Ketua Lembaga Basa kan Sastra Cirebon ini.

Namun kini, legenda urban itu sudah tak lagi banyak didengar. Para orang tua kini tak lagi menggunakan taktik menakut-nakuti anak-anak mereka agar pulang ke rumah menjelang Maghrib.

Nurdin sendiri, yang merupakan ayah dari dua anak mengaku, sejak anak pertamanya kecil, tak pernah menyebut-nyebut nama Sandakala, Wewe Gombel, atau Bengaok.

"Ada pergeseran nilai di masyarakat sekarang, mereka lebih rasional," ucapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->