Jagakali International Art Festival, Konsistensi Jaga Lingkungan

  Senin, 21 Oktober 2019   Erika Lia
Bersih-bersih Sungai Bendakerep, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, sebagai salah satu rangkaian Jagakali International Art Festival 2019. (Dok. Sinau Art)

HARJAMUKTI, AYOCIREBON.COM -- Membalik nama salah satu dari sembilan Wali, Jagakali Art Festival mencoba konsisten mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan. Publik diajak merenungi kondisi lingkungan melalui aneka pertunjukan seni, workshop, hingga bersih-bersih sungai dan penanaman pohon.

Menginjak yang kedelapan kali, even tahun ini mengundang atensi masyarakat internasional. Sebut saja di antaranya Ekuador, Algeria, Hungaria, Slovakia, Iran, Rusia, Meksiko, Azerbaijan, Inggris, Jerman, Malawi, Tunisia, Yunani, Mesir, Timor Leste, dan lainnya.

"Ada sekitar 25 orang dari mancanegara. Sebenarnya mereka undangan, hanya mereka rupanya ingin mengisi acara, jadi mereka akan dilibatkan dalam workshop dan seni pertunjukan, seperti musik khas negara mereka, teater, dan lainnya," kata Ketua Pelaksana Jagakali International Art Festival, Zainal Abidin kepada Ayocirebon.com, Senin (21/10/2019).

Merespon antusiasme warga mancanegara, pihak penyelenggara, Sinau Art pun membubuhkan kata tambahan pada even tahun ini menjadi Jagakali International Art Festival. Kegiatan ini akan digelar selama tiga hari, pada 25-27 Oktober 2019.

Meski merupakan even yang kedelapan, 2019 ini menjadi tahun ke-13 Jagakali digelar. Sejak dilaksanakan pertama kali pada 2006 hingga 2015, Jagakali sempat digelar selama 2-3 tahun sekali.

"Kemudian, mulai 2016 Jagakali digelar rutin setiap tahun," tambahnya.

Kegiatan itu diinisiasi Sinau Art, sebuah lembaga pelatihan yang terdiri dari sedikitnya 174 komunitas yang beragam di Cirebon, mulai komunitas seni, lingkungan, budaya, sulap, musik, sampai komunitas pecinta kucing.

Jagakali Art Festival mengangkat isu lingkungan hidup dengan tema berbeda setiap kegiatan. Pada even kedelapan ini, Cinta Sejati menjadi tema kegiatan.

"Belakangan, Indonesia dihadapkan pada isu 'perselisihan' antar manusia, perpecahan antar masyarakat atau perbedaan pendapat dalam agama, yang mampu melahirkan kebencian terhadap mausia lain, yang bahkan menghilangkan rasa kemanusiaan dalam bertindak," ungkapnya.

Kerusakan lingkungan oleh manusia, imbuhnya, membuat manusia bukan lagi menjadi manusia sejati sebagai penyeimbang ekosistem, yang memiliki hati nurani dan pikiran yang jernih, melainkan sebaliknya.

Dalam pandangan pihaknya, kondisi itu terjadi manusia kekurangan cinta kepada Tuhan. Menurutnya, cinta sejati adalah cinta seorang hamba terhadap Tuhannya.

"Bila mampu mencintai Tuhan seutuhnya, kita juga akan mencintai mahluk-mahluk ciptaan-Nya dan mampu juga mencintai perbedaan di dalamnya," tambahnya.

Penyelenggaraan Jagakali International Art Festival menjelang akhir bulan sendiri bukan tanpa alasan. Pemilihan waktu ini disesuaikan dengan pergantian musim, dari musim kemarau menuju musim hujan.

AYO BACA : Persiapan Jagakali Art International Festival #7 Tamba Sudah 90%

Festival ini sebagai simbol rasa syukur datangnya musim hujan. Selain alam yang sedang cantik, tak sedikit hewan yang sedang mengalami musim perkawinan, sehingga dinilai sebagai waktu yang tepat melaksanakan festival.

Jagakali tahun ini dilaksanakan di Cadas Ngampar, Kopiluhur, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon. Lokasi ini merupakan dataran tertinggi di Kota Cirebon.

Selain tinggi, kawasan ini pun berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Kota Cirebon. Dia menyebutkan, sampah dari masyarakat semakin bertambah setiap harinya.

"Seluas tujuh hektar lahan di TPA ini sudah digunakan untuk pembuangan sampah dan akan terus bertambah," ucapnya.

Tak jauh dari TPA Kopiluhur, ada pul Galian C yang aktivitasnya selama ini telah membuat tanah di sana berlubang. Meski telah ditetapkan ilegal, aktivitas di sana masih saja berlangsung.

"Permasalahan di lokasi itu menjadi salah satu alasan dipilihnya sebagai tempat pelaksanaan festival," katanya.

Menurutnya, kehadiran tim Jagakali diharapkan membantu menemukan solusi di wilayah tersebut dari kacamata komunitas.

Meski termasuk wilayah Kota Cirebon, permasalahan yang ada di sana membuatnya telah menimbulkan kesenjangan sosial yang cukup signifikan dengan masyarakat Kota Cirebon di bagian wilayah lainnya.

Nama Jagakali sendiri merupakan kebalikan dari salah satu dari Sembilan Wali (Wali Songo) yang menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa, yakni Kalijaga.

"Sunan Kalijaga dikenal sebagai pendakwah yang menyampaikan ajaran Islam melalui kegiatan kesenian. Di Cirebon sendiri, Kalijaga menjadi salah satu nama kawasan di Kecamatan Harjamukti," terangnya.

Jagakali pertama kali pun digelar di Kalijaga. Tak hanya membalik nama Kalijaga, Jagakali juga berarti menjaga kali atau sungai.

Dia mengingatkan, sebagai salah satu tempat di mana air mengalir, sungai merupakan sumber kehidupan manusia.

"Sumber adalah sungai peradaban. Ada sungai ada manusia, ada sungai ada makhluk hidup," tegasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->