Menjangkau Asa di Lemahwungkuk: Balita Itu Bernama Batik Kriyan

  Senin, 12 Agustus 2019   Erika Lia
Sebagian warga RW 17 Kriyan Barat, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, tengah membatik menggunakan pewarna alami. Batik ini dikenal warga sekitar dengan Batik Kriyan. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Usianya belum genap setahun. Ia dilahirkan untuk memotivasi masyarakat keluar dari zona gelap.

Masyarakat sekitar menamainya Batik Kriyan, mengacu pada lokasi di mana ia dilahirkan, yakni RW 17 Kriyan Barat, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Salah satu keunikannya berupa pemanfaatan bahan alami sebagai pewarna.

Pewarna alam yang digunakan di antaranya secang, lilin malam, kulit pohon bakau, dan bahan-bahan non sintetis lain yang dapat dijumpai di sekitar. Proses penciptaan kain batik dengan pewarna alam memakan waktu tiga hari hingga satu tahun.

"Sebenarnya sama saja (proses membatik dengan bahan non alami). Cuma memang (proses membatik dengan bahan alami) lebih panjang dan butuh waktu agak lebih lama, tiga hari sampai satu tahun selesai. Kalau untuk Batik Kriyan prosesnya minimal satu minggu," beber trainer Batik Kriyan, Ferry Sugeng Santoso kepada ayocirebon.com.

Ferry merupakan trainer yang didatangkan Korea Art & Culture Education Service (KACES), sebuah badan publik di bawah Kementerian Kebudayaan Olahraga dan Pariwisata Korea Selatan. Dia khusus didatangkan dari Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, untuk melatih warga RW 17 Kriyan Barat untuk membatik.

Program pemberdayaan masyarakat oleh KACES sebelumnya diketahui dilaksanakan di Pasuruan. Membatik menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan warga, baik di Pasuruan maupun Kriyan Barat, Kota Cirebon.

Ferry menyebutkan, proses membatik dengan pewarna alami yang dilakukan warga Kriyan Barat diawali dengan merebus kain dalam mordant (zat warna) menggunakan larutan air dan batu tawas. Setelahnya, kain dibilas dengan air bersih dan dijemur hingga kering.

Selanjutnya, kain mori itu digambari motif menggunakan pensil, sebelum kemudian dibatik menggunakan canting tulis. Kain yang sudah dibatik diblok dengan parafin pada bagian luar motif menggunakan kuas.

Kain yang telah dibatok masuk pada proses pewarnaan dengan teknik colet (menggunakan kuas). Setelah selesai, masuk pada proses fiksasi atau mengunci warna.

"Tawas digunakan untuk warna muda, kapur untuk warna tua, dan tunjung untuk warna gelap," ujar Ferry.

Setelah fiksasi selesai, kain dibilas dengan air bersih dan dijemur hingga kering. Selanjutnya, diblok pada motif yang sudah diwarna menggunakan lilin malam untuk mempertahankan warnanya.

Setelah diblok, kain dicelupkan ke dalam pewarna untuk mewarnai latar belakang. Kain kembali difiksasi, sebelum lalu dilorod atau direbus untuk melepas lilin malam yang menempel pada kain.

AYO BACA : Kampung Pecinan Cirebon : Cheng Ho dan Warisan Masa Blackout Terhadap Kecarubanan

"Kain kemudian dicuci sampai bersih dan selesai, kain siap dipasarkan," tambahnya.

Batik Kriyan tergolong baru, sejak pertama kali program pemberdayaan masyarakat oleh KACES ini dicetuskan pertama kali pada Oktober 2018. Dua puluh dua orang yang merupakan warga sekitar dilatih membatik, yang oleh KACES dinamakan Batik Story.

Mengingat kegiatannya sebagai implementasi dari program pemberdayaan, para pebatik di Kriyan Barat yang menggeluti aktivitas ini dapat digolongkan sebagai para pembelajar. Tak heran, bila hasil karya mereka belum dapat menyamai Batik Trusmi maupun Batik Ciwaringin yang selama ini sudah lebih lama eksis di Cirebon dibanding Batik Kriyan.

Kondisi itu menjadi tantangan bagi warga Kriyan Barat. Ferry sendiri tak menampik situasi itu.

"Peminatnya (Batik Kriyan) memang belum banyak, dan hanya orang-orang tertentu saja. Tapi di situlah letak keunikannya, yang menjadi keunggulan batik ini," tuturnya.

Selain pewarnaan yang memanfaatkan bahan-bahan alami, keunikan lain Batik Kriyan terletak pada motif. Seperti menyerasikan dengan bahan pewarna alami yang digunakannya, motif-motif Batik Kriyan pun bernuansa alam.

Ferry menyebut, salah satu motif ikonik pada Batik Kriyan berupa motif bunga kersem/kersen/talok (Muntingia calabura L). Selain itu, model dedaunan pula banyak dijadikan sebagai motif Batik Kriyan, seperti daun jati, daun pace, daun bintaro, dan lainnya.

"Objek untuk motif batik bisa apa saja yang ada di sekitar Kriyan sini," ujarnya.

Selain motif alam, sambungnya, keunikan yang menjadi keunggulan Batik Kriyan terletak pada karakter warnanya yang lebih luas dan beragam dari batik-batik yang sudah ada.

Tak hanya 'persaingan' dengan batik Cirebon yang sudah ada, konsistensi Batik Kriyan pun dihadapkan pada tantangan lain berupa pola pikir masyarakat sekitar. Mereka, menurut Ferry, rata-rata belum dapat menyadari potensi Batik Kriyan sebagai aktivitas ekonomi yang akan menunjang pemenuhan kebutuhannya.

Dari 22 orang yang tercatat sebagai peserta pelatihan membatik oleh KACES ini, setidaknya hingga kini 12 orang masih rutin mengikutinya. Menilai potensi Batik Kriyan dari sisi perekonomian untuk kesejahteraan warga Kriyan Barat, Ferry mengaku optimistis ke-12 orang yang bertahan mengikuti pelatihan itu kelak akan menjadi pionir bagi masyarakat sekitar lainnya.

"Beberapa sudah mulai paham bahwa ini (Batik Kriyan) bisa menjadi masa depan cerah mereka. Ke-12 orang yang masih pelatihan antusiasmenya tinggi, sehingga diharap menjadi pionir masyarakat lain nantinya," harap Ferry.

AYO BACA : Batik Peranakan Cirebon: Entitas Segala Rasa

Ada asa yang menggayut pada kelahiran Batik Kriyan. Dia diharapkan akan mengangkat kondisi ekonomi sosial masyarakat Kriyan Barat.

"Dulu, tingkat pengangguran masyarakat Kriyan Barat termasuk tinggi. Hampir tiap minggu ada tawuran warga dan tindak kriminal pun rawan, mungkin karena warga kurang kegiatan jadi gampang timbul gesekan," ungkap Ketua RW 17 Kriyan Barat, Bambang Jumantra kepada Ayocirebon.com.

Keadaan semacam itu pun harus ditanggulangi. Pihaknya tak menghendaki Kriyan Barat terus-terusan berada dalam zona gelap. Untuk ini, salah satu upaya melalui pemberdayaan masyarakat sekitar yang rata-rata bekerja sebagai buruh dan pedagang, dengan penghasilan yang tak menentu.

Gayung pun bersambut dengan kehadiran KACES yang kemudian menyediakan rumah sebagai tempat pelatihan, trainer, dan fasilitas pendukung lain dalam program ini. KACES sendiri menyebut Batik Kriyan sebagai Batik Story.

"Pihak KACES menyebutnya Batik Story. Mereka menginginkan cerita keadaan sekitar warga lewat batik," terangnya.

Hasil karya warga yang mengikuti pelatihan, lanjut Bambang, selanjutnya dikirimkan ke Korea setiap tiga bulan sekali. Proses seleksi terhadap kain batik seukuran saputangan yang dikirimkan ke Korea mewarnai program ini. Kain-kain batik yang dikirimkan itu akan dijadikan ukuran bagi KACES terhadap program pemberdayaan masyarakat Kriyan Barat.

"Nah, tapi kan ada sebagian warga yang menginginkan kain-kain batik itu dijual agar mereka punya penghasilan. Ukurannya memang lebih besar, bisa untuk baju. Kain-kain panjang inilah yang kemudian disebut warga sini sebagai Batik Kriyan," jelas Bambang.

Untuk kain Batik Kriyan yang dikomersilkan ini, diberlakukan harga berkisar Rp400.000. Dia menyebutkan, sampai kini, Batik Kriyan telah menarik minat banyak orang, termasuk konsumen dari luar Jawa hingga luar negeri.

Kain-kain batik tulis yang siap jual sendiri diketahui memiliki desain dan karakter warna yang lebih cerah. Selain itu, karakter batikannya pun lebih baik.

Kriyan Barat sendiri kini diproyeksikan Pemerintah Kota Cirebon sebagai Kampung Batik. Bambang berharap, penetapan itu kelak akan membawa perubahan yang lebih baik bagi warganya.

Salah satu warga yang semangat membatik, Giska (13), sangat bangga ketika kain batik yang dibuatnya terjual. Remaja yang terpaksa putus sekolah pada kelas 5 SD ini menjadi salah satu peserta yang konsisten mengikuti pelatihan.

Pada Batik Kriyan, dia menemukan jalan untuk berusaha meningkatkan taraf hidup keluarganya, setelah sang ayah tak bisa lagi bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara, sang ibu kini menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan jajanan anak-anak.

"Kami harap Batik Kriyan akan membantu warga sekitar menjadikan kehidupannya lebih baik," pungkas Bambang.

AYO BACA : Bale Gamelan: Entitas Segala Rasa

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar

-->