Kang Emil Usulkan Pengrajin Genteng Jatiwangi Memproduksi Terakota

  Sabtu, 09 September 2017   Faqih Rohman Syafei
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil memperhatikan seorang pengrajin gerabah dalam memproduksi genteng di Jatiwangi, Sabtu (9/9). (AyoCirebon/Faqih Rohman)

MAJALENGKA, AYOCIREBON.COM -- Bakal calon Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengusulkan kepada pengusaha dan pengerajin genteng Jatiwangi untuk memproduksi terakota guna menyiasati menurunnya omzet produk genteng.

Kang Emil – sapaan akrab Ridwan Kamil --  mengatakan bahwa inovasi baru seperti membuat terakota ini perlu dilakukan untuk merebut kembali kejayaan industri genteng Jatiwangi seperti tahun 1990-an sampai 2000-an.

Emil pun berencana akan mendatangkan sebuah tim untuk membantu mengajari para pengrajin genteng untuk memproduksi terakota. Diharapkan dengan ide dan gagasan ini dapat membawa kesejahteraan bagi para pengrajin.

"Bahan untuk membuat terakota itu sama yakni tanah liat. Namun terakota bisa meningkatkan nilai tambah karena bisa dipakai untuk menghias dinding atau lantai," ujarnya, Sabtu (9/9/2017).

Sementara itu, Pemilik Pabrik Genteng Sinar Jaya Jatiwangi, Ajie mengatakan bahwa kebijakan pemerintah saat ini membuat industri genteng menurun. Salah satu contohnya adalah pembangunan rumah susun yang sudah tidak lagi menggunakan genteng.

Menurutnya, pengrajin saat ini butuh dukungan dari pemerintah. "Permintaan saat ini turun sampai 80 persen padahal pengrajin terus memproduksi genteng, akibatnya jumlah genteng semakin menumpuk," kata Alie.

Lalu, pelaku usaha lainnya Ila menyebutkan, kondisi yang terjadi sekarang membuat para pelaku usaha ini ingin menutup usahanya. Ditambah lagi dengan harga bahan baku yang semakin hari terus naik. 

Disebutkan saat ini, pelaku usaha industri genteng hanya tersisa 150 usaha. Padahal pada tahun 1992 industri genteng mencapai masa kejayaannya sebanyak 630 pengusaha. Ini akibat dari penurunan permintaan genteng atau pasar sedang lesu.

"Industri genteng menghadapi  pesaing seperti genteng spandex (genteng berbahan metal). Ditambah industri garmen dari Korea yang tumbuh di Majalengka mengambil para pekerja perempuan di pabrik genteng. Posisi mereka di-ngeret (motong) dan neundeun (nyimpeun)," kata Ila. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar