Selesaikan Perizinan, Lalu Angkutan Online Boleh Melenggang di Jalanan Cirebon

  Jumat, 11 Agustus 2017   Faqih Rohman Syafei
Ilustrasi -- Uber, salah satu perusahaan angkutan umum online. (REUTERS/Segio Perez)

CIREBON, AYOCIREBON.COM – Polemik antara pengemudi angkutan berbasis online dang angkutan konvensional menyerang penjuru kota di Nusantara. Tak terkecuali, Cirebon. Sebut saja aksi penyetopan terhadap transportasi online di Jalan Cipto Mangunkusumo pada Selasa, 8 Agustus 2017 lalu.

Saat itu, belasan orang yang diduga sopir angkot menghadang salah satu mobil angkutan online yang tengah beroperasi di depan salah satu pusat perbelanjaan di Jalan Cipto Mangunkusumo, Cirebon. Tak ayal, massa yang emosional menggebrak-gebrak mobil sedan berwarna merah itu.

Gara-garanya, jelas karena sebelumnya Pemerintah Kota Cirebon telah mengeluarkan aturan larangan operasi kepada angkutan online lantaran izin operasional yang belum rampung. Karena itulah, tampaknya sopir angkutan konvensional itu geram lantaran melihat ke-ngeyel-an sopir angkutan online yang tetap beroperasi meski sebenarnya jelas-jelas tidak boleh.

Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Asep Dedi meminta kepada pengelola angkutan online agara kiranya mematuhi peraturan dengan mengurus izin operasi terlebih dahulu. Karena hingga saat ini, keberadaan angkutan online belum mendapatkan izin resmi dari Dinas Perhubungan Jawa Barat.

Asep mengimbau agar para pengemudi angkutan berbasis online untuk tidak dulu beroperasi. "Pengusahan transportasi online harus menempuh perizinan dahulu, yang jadi salah adalah mereka langsung beroperasi," ujarnya kepada AyoCirebon, Kamis (10/8/2017).

Sementara itu, Kasat Lantas Polres Cirebon Kota, AKP Galih Raditya mengatakan, sambil menunggu adanya peraturan resmi dari Dishub Jawa Barat, kiranya kedua belah pihak, baik itu pengemudi angkutan konvensional ataupun online, untuk saling menahan diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Untuk sementara saya imbau kepada kedua belah pihak khususnya pengemudi transportasi online untuk tidak parkir atau mangkal di wilayah yang didiami oleh ojek atau angkot agar tidak terjadi konflik," ujar Galih.

Jika terjadi permasalahan darurat, agar segera melapor kepada pihak kepolisian agar dapat langsung dilakukan pendindakan. Dan terkait kabar adanya penyetopan, bahkan Galih mengaku belum mendapat laporan resmi dari masyarakat soal itu. Tapi untuk mecegah adanya kejadian tersebut, pihaknya akan menempatkan personilnya di tempat yang rawan. "Pagi dan sore kami tenpatkan sejumlah personil di beberapa titik rawan," terangnya.

Seolah membela ‘kaum’nya, Soni, salah seorang pengemudi ojek online, mengatakan jika angkutan berbasis online adalah inovasi. Itu dilakukan guna menarik pelanggan yang harus disadari juga oleh para pengemudi angkutan konvensional.

"Sekarang itu pelanggan tidak mau repot, tinggal pesan dan tunggu pengemudi ojek online sudah datang. Ditambah lagi dengan harganya yang murah, ini kan sebuah inovasi jadi bukan saingan yang tidak sehat jadi gak perlu ribut-ribut," ucap Soni.

Soni juga menyayangkan atas apa yang terjadi beberapa hari lalu. Sebab menurutnya, kejadian itu tak ubahnya malah menimbulkan citra buruk kepada para pengemudi angkutan konvensional.

(Faqih Rohman Syafei)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar