Lulusan SMK Masih Penyumbang Pengangguran Tertinggi

  Senin, 12 Agustus 2019   Republika.co.id
Para pencari kerja mengantri di Bursa Kerja Expo Bogor, Kamis (25/7/2019). (Husnul Khatimah/Ayobogor.com)

JAKARTA, AYOCIREBON.COM -- Pengangguran terbuka masih menjadi masalah krusial di tanah air. Meski begitu, Badan Pusat Stastistik (BPS) mencatat adanya penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) menjadi 5,01% pada Februari 2019 atau berjumlah 6,82 juta orang.

Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menyumbang angka pengangguran tertinggi di antara tingkat pendidikan lain, yaitu sebesar 8,63%. Jumlah tertinggi berikutnya terdapat pada tingkat Diploma I/II/III (6,89%). Dengan kata lain, ada penawaran tenaga kerja tidak terserap terutama pada tingkat pendidikan SMK dan Diploma I/II/III.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengungkapkan, terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi sulitnya para pekerja Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan di era digital saat ini. Bhima mengaitkan, antara aspek vokasional dan supply-demand dari industri ketenagakerjaan saat ini.

AYO BACA : Tekan PMI, Luas Kawasan Industri di Timur Kabupaten Cirebon Ditambah

Dia menjelaskan, di sisi penawaran, ada ketidakcocokan antara kebutuhan dunia kerja dan keahlian yang diasah saat sekolah. Hal ini terbukti dari besarnya pengangguran sekolah vokasi yang mencapai 11,2% di 2018.

"Dari sisi permintaan, sektor utama penyerap tenaga kerja, yaitu pertanian, anjlok. Tahun 2018, penyerapannya minus. Harga komoditas perkebunan yang rendah dan kurangnya insentif buat petani jadi masalah serius," kata Bhima beberapa waktu lalu, seperti dilporkan Republika.

Ia mengakui dalam 20 tahun terakhir memang tingkat pengangguran terbuka saat ini yang terendah. "Tetapi, jika dilihat waktu yang lebih panjang, tahun 1997, tingkat pengangguran hanya 4,69%," kata Bhima.

AYO BACA : Festival Topeng Jawa Barat, Upaya Tahan Laju Industri Hiburan

Meski demikian, Bhima menjelaskan, sebenarnya angka pengangguran di era Orde Baru pemerintahan Soeharto pernah tercatat hanya sebesar 2,55% di 1990 silam. Oleh karenanya, parameter tingkat pengangguran terendah itu dapat dilihat tergantung dari berapa jauh perbandingannya. Apakah hanya dalam 20 tahun atau sampai 40 tahun terakhir.

BPS menyatakan, mereka yang berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja, dapat dilihat dari TPT SD ke bawah paling kecil di antara semua tingkat pendidikan yaitu sebesar 2,65%. Meski demikian, dibanding kondisi tahun lalu, penurunan TPT terjadi pada semua tingkat pendidikan.

Secara keseluruhan, jumlah angkatan kerja pada Februari 2019 sebanyak 136,18 juta orang, naik 2,24 juta orang dibanding Februari 2018. Komponen pembentuk angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan pengangguran. Pada Februari 2019, sebanyak 129,36 juta orang adalah penduduk bekerja dan sebanyak 6,82 juta orang menganggur. Dibandingkan setahun yang lalu, jumlah penduduk bekerja bertambah 2,29 juta orang, sedangkan pengangguran berkurang 50 ribu orang.

Struktur penduduk bekerja menurut lapangan pekerjaan pada Februari 2019 masih didominasi oleh tiga lapangan pekerjaan utama, yaitu: Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 29,46 persen; Perdagangan sebesar 18,92 persen; dan Industri Pengolahan sebesar 14,09 persen.

AYO BACA : Dianggap Mangkrak, Kejari Kota Cirebon Pelototi Kantor DPPKUMKM

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar